Oleh Vj Smart
*************
Pada suatu hari, Umar bin Khatab
bertanya kepada gurunya: "Apakah
cinta sejati itu?" Sang guru
menjawab : "Berjalanlah lurus di
taman bunga yang luas, petiklah satu
bunga yang terindah menurutmu &
jangan pernah berbalik kebelakang."
Kemudian Umar melaksanakannya &
kembali lagi dengan tangan hampa.
Gurunya bertanya, "Lho, mana
bunganya?" tanya yang guru. Umar
menjawab, "Aku tak bisa
mendapatkannya guru, sebenarnya
aku telah menemukannya, tapi aku
berpikir lagi pasti ada yang lebih
bagus didepan sana, dan ketika aku
telah sampai diujung taman. Aku
tersadar bahwa yang aku temui di
awal tadi itulah yang terbaik! Tetapi
aku tidak boleh menoleh kebelakang
kembali, bukan? Sang guru berkata,
"Seperti itulah CINTA, semakin kita
mencari yang terbaik, maka tidak akan
pernah sekalipun kita menemukannya.
Maka jangan pernah sia-siakan cinta
yang pernah tumbuh di hati kita,
karena waktu takkan pernah kembali".
Minggu, 02 Desember 2012
KATA MUTIARA
Sabtu, 01 Desember 2012
KU TEMUKAN CINTA DI TEPI DANAU
Karya: Putroe Bendahara
...
“ Cinta....maafin Riko. Riko
janji....Riko akan kesini lagi didanau ini. Tapi....”
“ Tapi apa Riko??” potong Cinta.
“ Tapi sekarang Riko harus
pergi...” jawab Riko dengan berat hati.
“ Pergi...kemana??” tanya
Cinta tertegun dengan kata-kata
Riko.
“ Ke London….” Jawab Riko pendek.
Cinta menundukkan kepalanya. Ia
mencoba menyembunyikan
kesedihannya itu. Riko sungguh tidak tega meninggalkan sahabat yang disayanginya itu. Sesungguhnya dalam hati Riko menganggap Cinta lebih dari seorang sahabat. Sayangnya
keadaanlah yang membuat Riko
enggan mengungkapkan perasaan itu, ketakutannya akan hubungan
persahabatan dengan Cinta akan
renggang setelah dia mengungkapkan perasaan itu.
“ Tapi Riko janji…. Riko akan
kesini lagi, di danau persahabatan kita ini.” tegas Riko.
Ada sedikit harapan di hati
Cinta untuk bertemu kembali
dengan Riko. Tetapi keragu-raguan tetap menyelimuti hati Cinta. Jarak yang jauh akankah membuat Riko tetap mengingatnya.
“ Ini Riko titip gelang.” ujar Riko
sedari melingkarkan gelang berinisial R di tangan kiri Cinta.
“ Kamu harus jaga gelang ini,
kamu nggak boleh ngilangin gelang ini. Gelang ini sebagai tanda janji Riko untuk Cinta, janji harus Riko tepati nantinya.” Tambah Riko.
Gelang perak berinisial R kini
melekat di tangan pelangi. Tak kuasa buliran bening membasahi pipi Cinta. Sebagai gantinya Cinta
memberikan kalung yang terukir
nama "CINTA" kepada Riko.
“ Buat Riko…. Supaya Riko nggak
lupa sama Cinta.” Kata Cinta
memakaikan kalungnya pada Riko.
Riko memegang kalung itu dan
memandangi ukiran nama yang
menggatung dikalugnya. Kabutpun mulai datang menyelimuti kalung itu,
tidak berapa lama wanita berparas
anggun datang menjemput Riko.
“ Rikoo… ayo sayang nanti kita
terlambat.” Teriakan mama Riko
memecahkan kesunyian.
“ Iya mah…” sahut Riko.
Pelangi semakin sedih saat detik-
detik keberangkatan Riko.
Rasanya dia ingin ikut bersama-sama Riko. Tapi tidak mungkin Cinta melakukannya.
“ Riko pergi…. Sampai jumpa lagi
saat kita berumur 17 tahun nanti.”
Ujar Riko untuk terakhir kalinya
kepada Cinta. Kabut di Danau
semakin bertambah tebal mengiringi kepergian Riko. Cinta hanya bisa menangis mengantar kepergian Riko ke London. Dan sejak saat itu adalah awal semua perubahan kehidupan Cinta.
******
Hari demi hari dijalani Cinta
tanpa kehadiran Riko. Tak ada canda ataupun kejailan Riko. Pelangi selalu datang ke danau awal persahabatannya dengan Riko.
Di danau itu Cinta memutar kembali memorinya saat-saat bersama Riko.
Semua kenangan diputarnya secara perlahan-lahan agar tidak hilang dari ingatannya. Ingin sekali Cinta cepat-cepat berusia 17 tahun, tak sabar untuk menanti kedatangan Riko yang
mengalami banyak perubahan.
Tapi sayang, itu masih 5 tahun
lagi dan waktu 5 tahun itu adalah
waktu yang sangat lama. Dalam benak Cinta dia bertanya-tanya
mungkinkah Riko masih
mengingatnya.....???
******
Lima tahun genap Riko
meninggalkannya. Belum ada kabar sama sekali tentang Riko. Sampai suatu hari, dimana hari itu adalah hari ulang tahun Cinta yang ke-17.
Cinta sangat sedih, disaat hari
istimewanya itu Riko tidak berada disini.
“Lima tahun sudah Rik.. kamu
pergi,dan hari ini adalah hari ulang
tahun ku. Kapan kamu pulang??”ujar Cinta memandangi foto dirinya bersama Riko saat masih kecil dulu.
Buliran air mata turun dari
pelupuk matanya. Cinta masih setia menunggu sahabatnya itu.Sahabat yang sangat dicintainya,dalam hatinya dia berharap Riko bukan sekedar sahabatnya melainkan orang yang memiliki hatinya.
“Cintaaa….”seruan mamanya
memecahkan kegundahan hati Cinta.
“Iya Mahh…” sahut Cinta.
“Cepat kesini….., ada surat
untukmu” ujar mama.
Cinta segera menghapus air
matanya dan berlari menghampiri
mamanya. Dalam hati dia berkata “
Semoga surat dari London, semoga surat dari London.”
Cinta memengang surat itu
Dilihatnya alamat surat itu tertera
tulisan dari London. Cepat-cepat
Cinta membuka surat itu.
London ,14 Febuary 2010
Untuk Cinta tersayang
Salam sayang,
“hai.. Cint”, mungkin kata-kata
itu yang tepat ku ucapkan untuk ku
ucapkan pertama kali setelah sekian lama aku tak menyapamu.Aku tau kamu pasti marah kepadaku setelah sekian lama aku pergi dan ini surat pertama
yang kau terima.Oh..ya sebelumnya ,apa kabar Cinta ??? aku harap kamu disana sehat dan semakin cantik saja.
Apa ada laki-laki yang mengisi
hatimu?? Semoga saja belum da
seseorang mengisi hatimu.(seulas
senyum terlukis diwajah Cinta)
Aku minta maaf baru bisa memberimu kabar sekarang.Sebenarnya sudah lama aku
ingin membagi kabar pertama ku saat di London.Tapi apa daya, aku ingin memberimu kabar lewat
e-mail tapi aku tak tahu alamat e-mail mu.
Aku tau hari ini kamu genap
berusia 17th.Mungkin jika kamu disini kamu sudah berulang
tahuu kemarin.Aku ingin sekali
bercerita bnyak tentang London .Disini cuacanya sangat bertolak belakang dengan di Indonesia, makanannya juga aneh-aneh namanya. Apalagi rasanya,lebih enak masakan si mbok.
Masih banyak yang ingin kusampaikan padamu. Aku harap kamu masih seceria dulu saat-saat kamu masih bersamaku.
Sekian dulu surat dariku, aku akan
menemuimu di tempat awal kita
bertemu dulu. Sebelumnya aku ingin mengucapkan Selamat Ulang Tahun Cintaku sayang. Semoga kau sehat selalu. Tolong tunggu aku sebentar saja,
aku akan kembali padamu.
Orang yang merindukanmu,
( Riko )
NB: masihkah kau jaga gelang dariku???
Aku harap kau masih memakainya…
Jangan hilangkan gelang itu !!!
Cinta tak kuasa meneteskan air
matanya. Meskipun berulang kali
Cinta menyekanya, air mata itu tetap saja tidak mau berhenti keluar dari matanya. Entah air ,mata kebahagiaanya atau kesedihannya. Cinta bahagia ternyata Riko tidak pernah melupakan dirinya. Tapi satu
hal yang mengganjal hatinya
kapankah Riko akan pulang?
******
Hari itu Cinta berangkat
ke sekolah, kebetulan jarak sekolahan cukup jauh. Tapi Cinta tak mengurungkan niatnya untuk naik sepeda ke sekolahanya.
Hari itu bertepatan dengan kepulangan Riko dari London. Riko memang sengaja tidak memberi tahu Cinta bahwa hari ini dia akan pulang. Dia ingin memberikan kejutan untuk Cinta.
Riko tiba di bandara tepat pukul 08.30 WIB. Senyumannya mengembang saat ia menginjakkan kaki untuk pertama
kalinya di Indonesia setelah sekian
lama dia pergi.
“ Aku pulang Cinta….” Ujarnya
sendiri sambil menatap birunya langit pagi itu.
Riko akan pulang ke rumah
lamanya yang telah sekian lama ia
tinggalkan dengan mamanya. Selama Riko di London rumah itu dihuni oleh neneknya dan 2 pembantu serta seorang satpam. Semenjak Riko pergi Cinta memang jarang pergi berkunjung ke rumah Riko.
Sebuah mobil kijang merah
marun menjemput Riko. Pak Karjon menenteng koper Riko dan langsung meluncur.
“ Pak Karjon mampir ke toko
boneka dulu ya…” pinta Riko.
“ Iya Den, mau beli boneka
buat Non Cinta ya?” Tanya Pak
Karjon.
“ Iya pak…, Pelangi tambah
cantik nggak Pak?”
“ Cantik Den, Non Pelangi
sering lewat naik sepeda ke sekolah.”
jawab Pak Karjon.
Sampai di toko Riko segera
membeli sebuah boneka berbentuk
kelinci berwarna merah muda, yang rencananya akan diberikan kepada Cinta malam nanti.
******
“ Cintaaaa……… kamu sudah mendapat kabar dari Riko?”
Tanya Mamanya.
“Sudah mah, tapi Cinta nggak
tahu kapan Riko akan pulang.” Jawab Cinta. Mamanya mengerutkan dahi karena bingung dengan jawaban Cinta.
“ Kok gitu??”
“ Ya Cinta nggak tahu mah,
ya udah deh Cinta istirahat dulu ya
mah..”
“ Iya udah sana.”
Sore menjelang malam Riko
telah mempersiapkan diri untuk
bertemu dengan Cinta. Mulai
pakaian, diperhatikannya dari ujung rambut sampai kaki tidak dilewati Riko. Neneknya hanya tertawa melihat cucunya yang mendadak fashionable.
Akhirnya setelah berjam-jam
berdandan, Riko berangkat menuju ke rumah Cinta.
Riko memacu mobilnya kecepatan yang stabil. Senyumnya tak
berhenti mengembang saat melihat boneka kelinci yang akan dberikan pada Cinta. Sangking senangnya Riko tidak melihat adanya truck dari arah yang berlawanan. Mobil yang dikendarai Riko keluar dari jalur dan menabrak pohon. Selang kejadiaan itu terdengarlah suara serene yang terdengar parau di telinga Riko.
******
Dirumah, Cinta
memandangi fotonya bersama Riko sewaktu kecil dulu. Senyum tipis muncul di wajah Cinta mengingat kejadiaan saat kecil dulu. Saat akan diletakkannya foto itu kembali, tiba-tiba saja foto terjatuh. Pelangi kaget bukan main, pikirannya mendadak
teringat tentang Riko.
Sementara itu Riko tersadar
telah berada di ruang yang aromanya penuh dengan obat. Didapatinya nenek berada di sampingnya, menangis mencemaskan keadaannya.
“ Riko kenapa?” Tanya Riko
dengan lemah.
“ Kamu kecelakaaan saat
menuju rumah Cinta.” Jelas nenek.
“ Tapi Riko harus ke rumah
Cinta sekarang juga.” Ujar Riko bersih keras ingin ke rumah Cinta.
“ Kamu belum sembuh betul, Nak.”
“ Tapi….”
“ Sudah kamu istirahat saja
dulu.” Ucap nenek memotong
perkataan Riko.
******
Pagi telah datang, Minggu ini adalah saat yang tenang untuk Cinta. Entah kenapa mendadak Cinta ingin pergi ke danau. Di keluarkanya sepeda yang
kemudian dikayuhnya menuju danau.
Sementara itu Riko masih
terbaring lemah di ranjang. Cahaya matahari masuk melalui celah-celah gorden jendela tempat Riko dirawat.
“ Danau… Aku ingin kesana.”
Ujar Riko ketika terbangun dari
tidurnya.
Dengan langkah tertatih Riko keluar
dari kamar inapnya. Riko memanggil taxi untuk mengantarnya ke danau.
Jika neneknya tahu Riko akan pergi ke Danau, neneknya tidak akan mengizinkannya.
Dalam hitungan jam Riko
sampai di danau. Taxi itu
meninggalkan Riko yang tertatih
menyusuri jalan setapak yang
dipenuhi kabut. Riko melihat
sekeliling danau, sedikit ada
perubahan pada jembatan danau itu.
Senyumnya kembali terlukis di
wajahnya melihat tempat kenangan masa kecilnya bersama Cinta.
melihat tempat kenangan masa
kecilnya bersama Cinta. Tak jauh
dari jembatan Riko mendapati seorang wanita yang sedang duduk di bangku taman tepi danau. Dalam hati Riko menebak-nebak “apakah wanita disana
itu Cinta?”. Perlahan-lahan Riko
mendekati wanita itu. Rambut
berwarna hitam kecoklatan kontras dngan kulit wajah putihnya. Wanita itu memakai switer hijau. Pandangannya
menerawang jauh kearah cakrawala.
“Cintaaaa…” panggil Riko
dengan rasa yang berkecamuk
dihatinya.
Wanita itu menoleh kearah
suara yang memanggil namanya.
Cinta menengadakkan kepalanya ke sosok laki-laki bertubuh atletis yang berdiri di depannya. Wajah laki-laki itu terlihat pucat, matanya melihat
Cinta lekat-lekat. Riko melihat
gelang yang melingkar di pergelangan wanita itu.
Hal itu membuat Riko semakin yakin bahwa wanita itu adalah Cinta. Cinta terkejut dengan tingkah laki-laki yang berdiri
dihadapannya.
“ Cintaaa…, kamu benar
Cintakan?” ujar Riko dengan derai air mata.
Cinta semakin heran darimana laki-laki itu tahu namanya.
Akhirnya Riko menunjukkan kalung yang terukir nama Cinta untuk meyakinkannya. Cinta berdiri dari duduknya. Buliran air mata tak terbendung lagi di matanya. Ternyata
laki-laki di hadapannya adalah Riko.
“ Ini aku Riko, Cinta.” Kata
Riko dengan suara bergetar.
Cinta hanya diam menagis
sejadi-jadinya.Sungguh idak disangka kalau Riko benar-benar menepati janjinya. Riko menarik tubuh Cinta kedalam pelukannya. Di danau ini, di tempat ini pertama awal pertemuan dan persahabatan Riko dan Cinta.
Dan di danau ini pula, sekarang Riko dan Cinta dipertemukan kembali setelah 5 tahun berpisah.
“ Jangan tinggalin aku
lagi…..please.” ujar Cinta
sesenggukan di pelukan Riko.
“ Nggak akan… I’ll stay here
for you…. Forever.” Jawab Riko.
Sesuatu yang terlihat jauh
tak selamanya menjadi jauh.
Begitupun dengan orang yang kita
sayangi, walau waktu dan jarak yang jauh tidak akan selamanya terpisah.
Yakinlah bahwa waktu juga yang akan menyatukan kita kembali.
SURAT DALAM HUJAN
Karya: Putroe Bendahara
...
HUJAN. Selalu demikian di bulan Nopember ini. Hujan benar-benar mewarnai hari. Sore. Ya, pukul empat lebih, hujan seperti pantulan manik-manik kaca menderas seketika dengan anggunnya. Aku menyesal, sumur di luar pasti akan keruh lagi airnya, mestinya diberi atap nanti. Hujan. Aku duduk di sini, dekat jendela kaca memerhatikan curahan air yang mengguyur serentak dari udara. Seperti apakah bunyinya? Di atas atap, di dedaunan, di tanah becek, bahkan di kolam ikan yang berderet nun di luar? Aku tak tahu. Sunyi. Kecuali gelegar petir yang menghantam bumi. Ya, hanya itu yang kurasakan. Aku
ingat kamu. Aku suka hujan, aku suka suasananya yang begitu kontemplatif. Kurasakan ekstase tertentu jika hujan. Memberiku inspirasi untuk menulis puisi. Bahkan juga menulis surat untukmu dalam suasana hujan kupikir cukup romantis, meski isinya terkadang bernada humor yang ironis. Aku rindu suratmu. Yang selalu hangat dan menggembirakan, simpel dan terkadang menggetarkan. Namun mungkin kamu sudah kecewa dengan kenyataan yang kuungkapkan dalam suratku yang barusan kukirimkan.
Mungkin kamu kebingungan dan terpaksa bertanya pada orang yang kebetulan pernah bertemu denganku,
entah Mas Herwan FR atau Agus Kresna, meski ada yang merasa tak berhak untuk mengatakan apa-apa
karena aku sudah memintanya agar jangan dulu mengabarkan kehadiranku pada orang-orang untuk
suatu alasan. Dan rentetan kemungkinan lainnya mengendap dalam benakku. Namun aku harap
kamu benar-benar cukup dewasa untuk menerima realita dalam hidup yang penuh ketakterdugaan. Aku
kesepian. Apa yang kulakukan.
Duduk di kursi sembari mengangkat kaki, dan di rumah hanya ada aku sendiri. Aku membayangkan kamu.
Sosok yang tak pernah kutemui. Hanya foto yang kamu kirimkan melengkapi imajinasi: seorang lelaki gondrong yang menarik, dan merasa dirinya secara psikologis sudah dewasa dalam usia 23 tahun. Heran, di luar belasan burung entah apa namanya berseliweran dalam guyuran hujan begini, apa yang mereka cari?
Barangkali kamu lebih tahu ekologi dan mau berteori? Aku kedinginan. Aliran listrik padam. Barangkali
segelas teh manis panas bisa menghangatkan tubuhku. Apakah di Bandung saat ini sedang
hujan juga, dan kamu tengah bagaimana? Mengisap A Mild ditemani secangkir kopi panas? Menulis puisi,
cerpen, esai, surat, atau tugas mata kuliah? Di kampus, di rumah, atau di suatu tempat entah? Membaca diktat,buku tertentu, karya sastra, atau komik? Di depan monitor komputer, mengobrol, atau nonton TV?
Mendengarkan The Doors atau Ebiet G. Ade? Tidur atau makan? Salat Asar atau menggigil kehujanan? Atau
mengguyur badan di kamar mandi? Atau tak melakukan apa-apa sama sekali? Cuma Tuhan yang tahu. Relasi yang aneh, katamu, karena lewat surat. Lalu kamu menyuruhku belajar internet biar bisa bikin e-mail dan tak perlu ke perpustakaan konvensional.
Dan kamu janji akan mengajariku jika nanti bertemu. Bertemu. Aku juga ingin bertemu kamu. Namun untuk
apa? Adakah makna dari pertemuan itu? Kubayangkan kamu sebagai Indra, temanku, yang membagi dunia lewat tangannya. Namun apa kamu bisa bahasa isyarat sederhana cara abjad? Kamu kecewa karena aku tuli? Apakah dalam surat pertamaku aku harus
memberitahu siapa diriku secara mendetail? Aku telah mengambil risiko. Begitu pun kamu. Risiko untuk
merelasi diri dan berinteraksi dengan orang asing.
Sebuah silaturahmi yang kumulai, haruskah berakhir sia-sia? Aku berusaha menerima diriku sebagaimana adanya dan menjadi orang biasa, meski aku tahu orang-orang di sekitarku kecewa. Keluarga, teman-teman, sahabat dekat, sampai siapa saja yang memang merasa harus kecewa. Bertahun-tahun, ada belasan tahun mungkin, sejak usiaku 16 tahun
sampai 25 tahun, kujalani hari dengan sunyi, sebuah dunia tanpa bunyi- bunyi. Bisakah kamu bayangkan? Ah, aku tak akan bisa mendengar permainan harmonikamu, lalu membandingkannya dengan
permainan harmonika abangku. Atau denting gitarmu dengan Eric Clapton. Atau bagaimana suatu melodi tercipta dari puisi.
Aku juga tak akan tahu warna suaramu saat memusikalisasikan puisi, berdeklamasi, menyanyi, tadarus, berperan dalam lakon teater, atau bicara biasa saja. Kamu masih ingat, dalam salah satu suratmu, kamu menulis: Setting: Kamar, 141000 - 21.20 WIB, Dewa 19 - Terbaik-terbaik. Gurun yang baik. Barangkali sekaranglah saatnya! Lalu kamu membiarkan selembar halaman kertas itu kosong. Aku mengerti artinya, kamu ingin aku memutar lagu
tersebut, dan membiarkan Terbaik- terbaik bicara. Sesuatu yang tengah menggambarkan suasana hatimu saat itu? Sayang, aku tak bisa melakukannya. Kata teman-teman, lagu itu tentang cinta dan persahabatan. Kurasa aku harus bertanya pada Rie, Indra, atau Nana; apa ada yang punya teksnya? Ironis,
bukan? Tampaknya kamu senang menulis dengan diiringi musik. Aku iri padamu. Karena aku ingin tahu juga seperti apa indahnya musik klasik itu, entah Mozart yang kata Indra melankolis; atau Chopin di masa silam, gumam Cecep Syamsul Hari dalam
puisi Meja Kayu yang kembali muram- surealis, menulis lagu pedih tentang hujan2; atau tahu di mana letak jeniusnya Beethoven yang mencipta komposisi meski tuli; dan bisa mengerti mengapa ayahku sangat
menyukai musik klasik selain country. Aku rindu bunyi gamelan, dan ingin kembali belajar menari. Entah jaipong Jugala, tari klasik Jawa, atau mungkin sendratari seperti yang sering kusaksikan di TVRI waktu kecil dulu. Aku ingin berperan sebagai Drupadi
atau Srikandi, perpaduan antara kelembutan dan keperkasaan. Kamu lebih suka karakter Bima? Aku suka karakter Yudistira, ia satu-satunya yang (hampir) berhasil mencapa puncak Mahameru sementar. saudara-saudaranya satu per sat. berguguran. Kamu tahu artinya, kan. Aku lupa penggalan kisah ini dari
komik wayang R.A. Kosasih ata. majalah Ananda -- yang pernah kit. baca waktu kanak-kanak dulu, meski
mungkin dalam dimensi yan. berbeda. Sudahlah, setidaknya ak. bisa tahu minatmu, dan kamu tahu
minatku
Aku tak tahu banyak tentang musik. padahal kamu pasti asyik sendir. dengan The Corrs, Dewa, Kubik, Jim
Morrison, bahkan juga Jimi Hendrix. Mengapa sih dalam cerpenmu yan. barusan dimuat koran, kamu menuli. soal Jimi Hendrix dan Jim Morrison?
Itu mengingatkanku pada Abuy tema. SMU-ku yang sangat mengidolaka. mereka dan senang cerita soal it. padaku, seolah merekalah yang bis. meluapkan kegelisahan terpendamny. yang liar menuju muara kebebasan. Lucu, adakah orang tuli yang begitu
besar rasa ingin tahunya tentan. sesuatu yang tak mungkin bis. dirasakan. Katakan aku aneh. Aku
memang orang aneh. Namun aku jug. berharap bisa tahu lebih banya. tentang Iqbal, Rumi, Camus, Dylan,
Gibran, Cummings, Malna, sampa. Rendra. Ya, itu jika kita bertemu. Mungkinkah itu? Tempias hujan tidak
deras lagi, namun kesedihan itu masi. menghantam ruang terdalam. Ak. butuh kawan. Kamukah orangnya?
Tidak, kamu mungkin sudah berharap agar aku jadi seseorang yang ke lima setelah kamu kecewa dengan sekian perempuan yang masuk dalam hidupmu, meski itu terlalu dini karena kita baru tiga kali saling menyurati. Semudah itukah hatimu terpaut, atau kamu cuma ingin mengujiku? Tidak. Aku tak berharap apa-apa darimu. Aku hanya ingin jadi kawanmu. Kawan
biasa. Bukan pacar. Meski aku juga ingin punya pacar, sebagaimana perempuan kebanyakan. Seseorang
yang membuatku jatuh cinta sungguhan. Seseorang yang mencintaiku apa adanya. Seseorang di mana bisa berbagi dunia. Naifkah?
Hujan. Aku kembali memandang ke luar jendela kaca.
Di sana gunung begitu dekat dengan latar pepohonan seperti hamparan permadani hijau kebiruan, dan kabut
yang mengental; terasa beku dalam pelukan kegaiban-Nya. Ya Tuhan, barusan kulihat kilatan petir membelah langit desa di sebelah utara. Subhanallah, indah sekali
bentuknya; kilatan warna perak yang abstrak dengan latar kelabu. Aku membayangkan bagaimana
seandainya jika petir tiba-tiba menghajarku. Sudahlah, mungkin lebih baik aku membayangkan diriku sebagai Walter Spies atau Alain Compost; akan kuabadikan keindahan panorama hujan. Tidak. Aku bukan mereka. Aku cuma punya kata-kata. Bukan kuas atau kamera. Namun kata-kata yang berhamburan dari mulutku
pasti tak akan kamu mengerti sepenuhnya jika kita berbicara. Kamu akan membutuhkan waktu untuk
mengenali warna suaraku yang kacau intonasinya, seperti teman-teman dekatku. Mungkin cukup lama.
Apakah kita akan bertemu dan bicara seolah kawan lama dengan akrabnya? Atau kaku lalu merasa sia-sia? Aku bukan May Ziadah, Elizabeth Whitcomb, Mabel Hubbard-Graham Bell, Marlee Matlin, atau Jane Mawar.
MENUNGGU PELANGI
Karya: Putroe Bendahara
“ Ehm, paman. Cari sisanya dimana yah?
Maaf ya paman kalo ngrepotin..” “ Aduh
dimana ya? Paman Heru udah jarang
banget ketemu event – event balap.”
Jawab Paman Heru. “ Bener nih Paman?
Ngga ada sama sekali?” tanyaku sekali
lagi untuk meyakinkan. “ Ada sih satu.
Paman kemarin ketemu satu event.
Hadiahnya lumayan gede juga” jawab
paman sekali lagi. “Ya udah aku ikut.”
Jawabku tanpa pikir panjang. “Tapi yang
ngadain Komunitas Bali.” Ujar Paman.
“Hah? Bali? Balap Liar paman?” tanyaku
dengan heran. “Iya. Kamu tau kan
konsekuensinya?” “Emmmm, oke deh
gapapa. Pokoknya ayah sembuh.”
Setelah kubicarakan hal ini dengan
mama, Tami dan Hugo, tak ada yang
menyetujui kesepakatanku kecuali Hugo.
Hanya dia yang menyemangatiku saat itu.
“ Udah To. Kalo ada barang yang bisa
dijual, biar mama jual daripada kamu ikut
balapan kaya gitu.” Mama melarangku. “
Iya kak. Biar nanti Tami jual gorengan
atau apa gitu buat bayar biayanya ayah.
Daripada kakak nanti kenapa – napa.”
Tami yang masih di bangku SD itu juga
berusaha melarang. Tapi keputusanku
udah bulat. Aku akan tetap mengikuti
balap ini.
Hari yang kutunggu akhirnya tiba. Sudah
siap aku di atas motor balapku ini. Tak
lupa ada gantungan kunci dari Pelangi
yang menemaniku. Para cewek – cewek
di depanku menarik bendera hitam putih
di tangan mereka. Segera melaju kami
semua. Urutan pertama ada rivalku si
Joe. Tapi aku berusaha menyalipnya.
Beberapa lap sudah kulewati. Tinggal
satu lap lagi. Aku masih di urutan dua.
Joe mengencangkan lagi gasnya. Aku
juga tak mau kalah. Aku tancap gasku.
Kini jarakku dengan Joe hanya beberapa
cm! Kutancap lagi gasku! Garis finish
sudah ada di depanku. Mataku mulai jeli
memainkan trik. Kutancap gas hingga aku
berada di depan Joe. Kuhalangi laju
motor Joe dengan zig zag. Tinggal sedikit
lagi.. Ya, ya, ya.. YESSS!!! Aku berhasil
mencapai urutan pertama di garis
finish. Paman Heru berteriak
menyemangatiku dari jauh. Para
penonton menyoraki dan memberi tepuk
tangan untukku. Sangat haru sekali.
Sangat memuaskan. Tapi, polisi! Polisi!
Polisi! Penonton berlarian kesana kemari.
Para pembalap lain melaju kencang tak
berarah. Paman Heru berteriak padaku
“Tito!!!! Ayo pergi!!!! Paman ga mau kamu
ditangkap polisi!!!” “Lhoh kenapa
paman???!!!!! Aku kan belum dapat
hadiahnya!!!!” teriakku membalas paman
Heru. “Tito ini Balap Liar!!!!! Kamu lupa
ya????!!!!!!”
Jregg. Oh iya!! Aku baru teringat.
Kutancap gasku. Aku melaju tanpa arah.
Tak kusangka segerombolan cewek centil
berlari dengan histeris di depanku. Aku
rem motorku dengan sangat mendadak
dan dengan kecepatan yang melebihi
normalnya. Keseimbanganku goyah. Aku
terjatuh dari motorku!
Kaki kiriku tertindih body motorku.
Sebelum kubebaskan kaki kiriku, kuraih
dulu gantungan kunci dari Pelangi. Sedikit
lagi…, yah! Aku berhasil membebaskan
kakiku! Gantungan kunci dari Pelangi juga
sudah kukantongi.
Belum aku berdiri dari jatuhku, seorang
pembalap dengan motor besarnya segera
melindas kedua kakiku dengan kecepatan
tinggi. Sakit sekali! Aku mengerang
kesakitan. Benar – benar sakit. Lebih
sakit daripada hatiku yang tercabik saat
Pelangi pergi. Paman Heru datang
menghampiriku. Belum sempat aku
mendengar Paman Heru berbicara,
pandangankupun gelap. Apa ini? Aku
sudah mati? Oh aku sudah mati ya.
Ternyata aku sudah
mati.
Perlahan – lahan aku membuka mataku.
Rasanya sudah lama sekali aku tidur.
Tapi ada mama di depanku. Tami dan
Hugo juga ada. Baunya sama persis
ketika aku melihat ayah yang terbaring
lemah di ranjang rumah sakit. Oh? Aku
sedang ada di rumah sakit?
Aku bangun dari tidurku. Kulihat anggota
badanku. Ada yang hilang!! Kakiku!!
Mana?? Dimana kedua kakiku? Tertanya
peristiwa itu membuat aku kehilangan
kedua kakiku. Harusnya aku menuruti
nasehat mama dan Tami. Pasti tidak akan
seperti ini jadinya. Ah! Tapi nasi telah
menjadi bubur. Apa daya??
“Kak, waktu kakak koma, kak Pelangi
dating kesini lho.” Kata Tami saat aku
berbaring di ranjang tidur. “ Oh ya? Terus
terus? Kak Pelangi bilang apa aja?”
tanyaku penasaran dan langsung bangkit
dari tidurku. “Enggak bilang apa – apa.
Cuma kesini pegang tangan kak Tito terus
pulang.” Jelas Tami. “Cuma gitu? Dia ga
nitip apa – apa?” aku heran. “ Emm,
enggak kok.” Jawab Tami ragu. “oh. Ya
udah deh”.
Siang itu hujan turun. Aku sangat ingat
pada Pelangi. Soalnya dia pernah buat
janji tiap ada hujan turun dia akan balik
buat liat pelangi sama – sama. Dengan
bantuan dorongan Hugo, aku menelusuri
lorong rumah sakit hingga ke lobby
dengan kursi roda. Kutunggu terus hingga
Hugo tertidur di atas sofa. Tapi hingga
larut ia tak juga datang.
Namun aku sangat menyesal
menunggunya sejak aku melihat surat
yang terletak di atas meja. Andai saja
waktu Tami bercerita padaku, aku tau
kalau di tangannya ada surat dari
Pelangi. Surat itu berisi : “Buat Tito
sahabat gue sekaligus pacar gue yang
paling gue sayang. To, gue minta maaf.
Gue ga bisa balik lagi buat liat pelangi
sama – sama lagi kaya dulu. Soalnya di
sini gue udah ketemu ama cowok yang
gue pikir bisa dampingin hidup gue.
Tolong titip gantungan kuncinya ya.
Rawat yang baik oke?”
Itupun belum semua. Yang paling
membuat aku menyesal menunggunya
semalaman adalah kalimat terakhir dari
suratnya. Yaitu: “Gue ga bisa hidup sama
orang cacat kaya lo”
Kini kusadari, pelangi hanya terbentuk
dari pembiasan yang tidak nyata. Namun
bisa membuat satu cahaya putih menjadi
bermacam – macam warna. Tetapi
pelangi hanya sementara dan bila tak
ada air dan cahaya pelangi hanya akan
mengingkari janjinya untuk menyinari
dunia.
Sama seperti si Pelangi. Pelangi memiliki
ciri – ciri yang kuimpikan namun tidak
nyata di hatinya. Ia bisa membuat
hidupku berwarna dan ceria. Tapi hiburan
itu hanya sementara untukku dan bila
tidak ada diriku yang utuh seperti dulu, ia
mengingkari janjinya dan berpaling.
AKU DAN GADIS PERPUSTAKAAN
Karya: Putroe Pendahara
...
Pertama kali kulihat dirinya ada di
perpustakaan, gedung tertua sekolah
kami, termasuk gedung paling jarang
dimasuki. Tempat yang angker juga
paling ngebosenin di seluruh sekolah. Aku
pun pada awalnya datang ke tempat itu
Cuma buat tidur atau kalo nggak ya,
menghindar dari cewek-cewek dengan
lirikan mata paling jijay atau cowok-
cowok yang ceweknya pada lari begitu
ngelihat gue di sekolah.Siapa sih, yang
nggak kenal Roni di SMU ini? Tampang,
oke. Tinggi, oke, badan, oke, otak, ya...
lumayanlah.
Kan ada olahraga sebagai penyeimbang.
Di dunia ini nggak semuanya sempurna.
Pasti ada yang kurang supaya kita nggak
disangka anak dewa. Toh selebihnya gue
yang paling oke dan paling tenar di
sekolah.Begitu gue lihat, semua cewek-
cewek menyingkir dengan tatapan
terpesona, dan begitu juga para
cowoknya, dengan tampang memelas
karena dicuekin sama cewek-cewek ini.
Yah, ini aja udah cukup kan, ngegambarin
siapa gue?Tapi kali ini kita nggak akan
ngebahas soal surat-surat yang ada di
laci meja gue, surat cinta maupun surat
tantangan, atau hadiah Valentine yang
sampai menumpuk (gue nggak suka
coklat gitu, paling di kasih sama anak
tetangga. Tuh, ada Dion umur 6 tahun
yang paling doyan ama coklat. Moga-
moga aja dia nggak tambun kayak
pemain sumo yang gue liat di TV),
ataupun ajakan jalan dari cewek-cewek
yang udah kasmaran ama gue.
Topik yang ngebosenin, tapi tetap aja
dibicarain. Eh, nggak. Bukan itu semua
kok.Ini tentang dia, cewek manis yang
nggak pernah terlihat sampai saat ini,
sampai aku pergi ke
perpustakaan.Namanya Dinda Aprilia,
kulihat namanya di daftar peminjam di
resepsionis. dia adalah peminjam tetap
yang minimal meminjam dua buku, dua
kali dalam seminggu. Datang setiap hari
Senin dan Kamis, begitu datang selalu
duduk di kursi nomor dua-dua, di
samping jendela yang menghadap ke
lingkungan sekolah kami. Kan gedung ini
ada di lokasi paling belakang dan di
tengah. Jadi kalau melihat ke luar jendela
yang ada di lantai dua itu, semua
lingkungan sekolah sampai ke gerbang
kelihatan semua.Tingginya biasa-biasa
saja. Kulitnya kuning langsat, rambutnya
sampai di atas dada, kelihatannya tipis
dan lembut. Wajahnya kalau membaca
buku... tenang sekali.
Mungkin karena cahaya matahari yang
menembus kaca jendela itu membuat
wajahnya bersinar?Entahlah, tapi waktu
menatapnya, rasanya sama sekali nggak
bisa berhenti. Melihatnya yang begitu
tenang, lembut dan konsentrasi, rasanya
nyaman sekali. Terkadang saking
konsentrasinya dia lupa pada keadaan
sekitar. Kadang sedih, deg-degan dan
tertawa sendiri waktu membaca buku.
Buku yang pernah dibacanya sangat
beragam. Dari buku komik, sampai buku-
buku tebal yang bahkan nggak aku tahu
judulnya.Tapi ada saatnya, waktu dia
nggak membaca, dia merenung melihat
keluar jendela sampai tertidur.
Manis sekali. Rasanya pengen banget
jadiin dia pacar.
Tapi……………………………………………..
Waktu tanpa sengaja berpapasan
dengannya (lebih sering di sengaja). Dia
nggak terpesona sama sekali ma aku!!!
Dia cuek banget dan nggak sadar kalau
aku lewat. Bahkan matanya nggak pernah
fokus melihat apapun. Harusnya dia bisa
sadar kalau ada aku kan? Aku punya
aura yang bisa membuat cewek-cewek
menoleh dalam jarak 24 meter. Tapi dia?!
Dalam perbedaan satu inci pun sama
sekali nggak perduli!Haaah.... kenapa aku
nggak ketemu dia sebelumnya ya? Nah,
lupa sudah kata 'gue' saking gregetnya
liat tu cewek. kayaknya gue harus bikin
rencana jitu buat tu cewek takluk (yah,
paling nggak sadar kalau gue itu
'ada')."Hai." Tanyaku mengambil kursi
dan duduk di depannya. lamunannya
langsung terpotong begitu saja untuk
melihat siapa yang datang. detik-detik
terasa jadi lebih lama sejak dia menengok
ke arahku. dia ini lagi mikirin apa sih?dia
lalu mengangguk, lalu meneruskan
lamunannya ke luar jendela. kalau dipikir-
pikir, nggak mungkin cuma melamun
kalau melihat keluar jendela bahkan
setelah disapa orang. jadi sebenarnya dia
sedang apa? masa lagi merhatiin orang?
pikirku ikut melihat ke luar
jendela."Mencari apa?" suara cewek
terdengar. kagetnya.... baru kali ini
kudengar suaranya. pandangan matanya
sama sekali nggak berubah. apa dia
punya radar?"Kamu sendiri? oh iya, kita
belum kenalan. namamu siapa?
namaku...""Roni." potong cewek itu.
matanya yang sendu masih tetap nggak
menatapku. "Playboy Legend at School.
kau terkenal sekali. namaku Dinda
Aprilia."baru sekali itu dia mata kami
bertemu. sinar mentari membuatnya lebih
berkilauan dari biasanya.
ini yang membuatku selalu penasaran.
sebenarnya... apa yang membuatku
begitu tertarik sama dia ya? yang paling
penting, sebenarnya dia itu lagi melihat
siapa?
“Kamu sebenarnya lagi melihat apa sih?”
Pagi ini terlalu suntuk buat hari yang
cerah, dan di hari yang cerah ini sudah
ada pasar pagi yang terlihat begitu kita
membuka pintu. Di kelas XI yang jumah
muridnya nggak lebih dan nggak kurang
dari 40 orang ini, semua terlihat begitu
sibuk dengan grupnya masing-masing.
Ada beberapa option; grup gosip, grup
olahraga, atau grup iseng. Ada satu grup
kecil, yaitu grup rajin. Karena grup ini
anggotanya sedikit, kita coret saja dari
daftar. Yang jelas, grup-grup ini tercipta
karena satu alasan yang sama: nggak
ada kerjaan.“Pagi Roni....” Terdengar
salam centil di sebuah pagi yang cerah di
pasar pagi yang ada di kelasku.
Berbeda dari cewek-cewek pada
umumnya, cewek-cewek yang ada di
kelas ini merasa mendapat berkat yang
nggak boleh di sia-siain. Mereka merasa
bahwa sekelas denganku berarti boleh
melakukan apa saja denganku. Mulai dari
memberi salam, mengajak jalan, bahkan
membuat bekal. Dengan berbagai alasan
mereka mengajakku ngobrol.
Ngebosenin.“Ron, aku punya tiket...”“Gue
sibuk!!” potongku cepat. Nggak boleh ada
satu celahpun buat mereka. Tapi seperti
pepatah, ‘gugur satu tumbuh seribu’,
selalu saja ada yang nanya-
nanya.“Iiihh... kok Roni jadi dingin sih?”
Gerutu cewek-cewek itu. Dingin?
Gue?“Kau memang kelihatan dingin akhir-
akhir ini.” Tegas Chandra, siang ini.
Chandra, atau Chan si tenar dua di
sekolah ini. Kebetulan, dia tetangga yang
juga satu kelas dengan gue. Kebetulan,
dia Ketua OSIS en yang pasti berotak
encer. Kebetulan, dia jadi rival gue di tim
basket. Yah, sayangnya dia nggak punya
penampilan oke kayak gue. Entah karena
sibuk atau gimana, dia kucel dan nggak
pernah merhatiin penampilan. STOP!!
Lagi-lagi kebiasaan...“Kok bisa?” Gue
nggak percaya ini. Sampai Chandra
juga.“Biasanya kamu yang tingkat PDnya
tinggi nggak bakal nolak cewek kayak
gitu. Kau juga yang bilang, kalau cewek
itu harus diperlakukan baik, supaya
mereka senang.
Selama ini kalau nolak cewek, nggak
pernah tuh kamu bilang ‘sibuk’ dengan
nada ketus.”Iya ya. Sejak kapan gue jadi
begini? Sejak... sejak ketemu dengan
cewek itu... “Kamu belum jawab
pertanyaanku...” Gue akhirnya nanya lagi.
Sudah seminggu lebih dengan jadwal
yang sama, gue ngobrol sama dia.“Yang
mana?” Tanya dia balik. “Kan sudah ku
bilang, namaku Dinda Aprilia, kelas X.
Masa nanya tempat tinggalku juga?”“Eh,
nggak segitunya sih...” Jawabku cepat.
Dia jarang berekspresi macam-macam
kalo ngomong. Tapi kalo lagi baca, bisa
jadi makhluk seribu wajah. “Kamu kan
sering melihat keluar, bahkan sampai
bengong. Sebenarnya lagi nyari apa di
luar.”Dia terdiam menatapku. Tatapan
yang bisa membuat orang salah tingkah
karena seperti ditatap dalam-dalam,
heran dengan apa yang kutanyakan. “Aku
mencari cinta.”Cinta? Untuk apa mencari
cinta?“Kalau Roni tidak mungkin mencari
cinta. Cinta akan datang dengan
sendirinya. Pasti Roni berpikir seperti itu
kan?” Kenapa dia bisa baca pikiranku?!
Terseyum, dia merapikan buku yang
dibacanya. “Pernah Roni jatuh cinta?”Gue
ditanya pernah jatuh cinta sama anak
kelas 1?! Apa-apaan ini?!“Kayaknya
nggak pernah.
Karena terlalu banyak yang mengejar,
nggak sekalipun berpikir ada cinta
disana. Iyakan? Beda denganku, aku
Cuma punya satu cinta dalam
hidupku.”“O... First Love? Di sekolah ini?”
Tanya gue penasaran. “Siapa?”Lagi-lagi
dia diam. Kayaknya ragu-ragu gitu. Dia
menatap gue dan tersenyum kecil. “Ada.
Tenang aja, bukan Roni kok!!”Kok...
rasanya aneh ya. Gue kan Cuma
penasaran sama cewek ini? Kenapa
begitu dia bilang...“Kok ngomong gitu?
Memangnya aku kenapa?” Tanyaku
dengan tawa basa-basi.“Roni ke sini buat
kabur kan? Dari cewek-cewek yang di
sana itu.” Katanya melirik ke luar.
“Lagipula, kalau melihat Roni yang
menghadapi mereka, pasti Roni punya PD
yang tinggi. Aku nggak mau ada yang
salah paham melihat kita dekat begini,
dan kesempatanku kandas.”Bukan buat
gue... dia dari awal memang nggak suka
gue...Dia dari awal sudah punya orang
lain. Dan nggak bakal bisa berpaling ke
orang lain... TUNGGU DULU!!! KENAPA
JUGA GUE JADI KEPIKIRAN KAYAK
GINI!!!Gue ini orang paling oke di sekolah.
Nggak sedikit yang nge-fans sama gue.
Nggak sedikit yang gue terima, tolak n
gue abaikan gitu aja. Kenapa sama satu
cewek ini... satu cewek ini...“Lo betul-
betul suka sama cowok itu?” Tanya gue
sekali lagi. Dia mengangguk. “Bilang,
siapa namanya. Gue bakal bantu.”Dinda
tercengang sesaat. Dia menggeleng.
“Nggak usah, ini masalahku sendiri. Aku
nggak diam saja kok! Aku masih terus,
dan akan terus berusaha.”“Aku deket
sama dia dari SMP. Ternyata, begitu lulus
SMP, dia pindah ke SMA ini.
Padahal sekolah kami sampai SMA.
Mungkin karena pekerjaan orang tua. Tapi
kaget juga, begitu ketemu di sekolah ini,
dia berubah...”Berubah... berubah seperti
apa?“Ada apa lagi?” Tanya Chandra
mengagetkan gue dari belakang.“Nggak,
nggak ada apa-apa...
Cuma...”“Cuma?”“Ada
cewek ...”“Selamat!!”“Loh,
kenapa?”“Karena ada cewek...” Jawab
Chan simple.“Sialan lo..” gue nggak
tahan nggak senyum. “Gue serius nih!!
Nggak usah bahas cewek deh! Ndra, kalo
kita suka sama orang, trus waktu orang
itu pergi kita ikut, wajar nggak!!”“Dasar
idola. Sampai ada yang pindah ke sini
buat ngejar.” Kata Chandra. “Jadi dia
yang bikin kamu berubah? Jadi kamu
suka sama cewek itu ya?”“Nggaklah,
mana mungkin.” Jawabku cepat. “Gue
Cuma penasaran sama cewek itu. Gue liat
dia di perpus, terus gue ngobrol sama
dia. Terus...”“O... gitu ceritanya...” Potong
Chandra. “Kamu nggak suka sama dia.
Tapi kamu CINTA sama dia...”“Sudah gue
bilang!!! Bukan!!!” Huh!!! Gue bisa gila
kalau ngomong sama Chandra yang
kumat jahilnya! “Gue Cuma ngobrol
sebentar sama dia kok!! Dia yang selalu
duduk dekat jendela besar di lantai dua
itu, anak kelas 1 yang...”“Dinda... Aprilia?”
Gumam Chandra pelan. Bahkan seperti
berbisik.“Lo kenal, sama Dinda Aprilia?”
Tanyaku agak kaget. Chandra langsung
menggeleng. Dia menghindar. Chandra,
jangan-jangan lo...
Jumat, 30 November 2012
Puisi Secerah Mentari Pagi
***
Memandang langit nan indah
Menikmati ciptaan Sang Maha Pemurah
Ucapan syukur menghias lidah
Berharap kan bisa selalu terarah
Terik mentari di pagi hari
Menghibur jiwa yang sunyi
Cahanya semerbak menyinari hati
Berusaha temukan cinta sejati
Hatiku kini tak lagi pilu
Terbuai dunia yang menipu
Kuberharap ini kan bersemi selalu
Demi mengharap cinta Dzat Yang Maha Tahu Kuberharap hatiku kan secerah mentari
Bisa menerangi hati hati yang sunyi
Membangunkan jiwa jiwa yang sepi Mengapai ridho ilahi.
LOVE IN TROPHY
Oleh Vj Smart
Taukah saat ini saat yang sangat sulit
Aku tahu banyak yang harus ku perbaiki
Ini mungkin masa terakhir kita bersama
Sebelum kita menempuh jalan prestasi
Terlalu sukar untuk dirasakan
Ketika semuanya terulang dan bersama
Ketika hati berkata lain kepada sang
bunda
Ketika aku harus memilih waktu yang tak
pasti
Semua kulakukan untu keduanya
Saat senyum itu, aku fikir apa ini
perpisahan
Apa allah mengijinkan kita untuk
beberapa hari saja
Entahlah semua itu akan kita buktikan di
Lapangan
Bertarung dan berpestrasi
Menang atau kalah tidak jadi masalah
Semoga piala ini saksi kebersamaan kita
Bukan drai akhir tangis perpisahan
Memori20 Nov’12.
20"s
KECAMATAN BENDAHARA,ACEH TAMIANG
- Kecamatan —
Negara Indonesia
Provinsi Nanggröe Aceh
Darussalam Kabupaten Aceh Tamiang Pemerintahan
- Camat Helmi, Se
Luas - km²
Bendahara adalah sebuah Kecamatan
di Kabupaten Aceh Tamiang, Nanggröe
Aceh Darussalam , Indonesia.
l • b • s
Kecamatan Bendahara,
Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh
Gampong Alur Cantik · Alur
Munang · Bandar Baru ·
Cinta Raja · Gampong
Balai · Gampong Bandar
Khalifah · Gampong
Besar · Gampong Jawa
Tinggi · Kampung Mesjid ·
Kampung Mesjid Sungai yu
l • b • s
Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh
Kecamatan Banda Mulia •
Bandar Pusaka •
Bendahara •
Karang Baru •
Kejuruan Muda •
Kota Kuala
Simpang •
Manyak Payed •
KABUPATEN ACEH TAMIANG
Motto : Kaseh pape setie mati
Peta lokasi Kabupaten Aceh Tamiang
Koordinat: 03°53-04°32' LU dan 97°4
98°18' BT
Provinsi Aceh
Dasar hukum UURI Nomor 4 T
Tanggal 10 April 2002
Ibu kota Karang Baru
Pemerintahan
- Bupati Abdul Latief
- DAU Rp. 306.322.187
Luas 1.939 km²
Populasi
- Total 34.146 [2]
- Kepadatan 18
Demografi
- Kode area
telepon
0641
Pembagian administratif
- Kecamatan 12
- Kelurahan 128
- Situs web http://www.acehtamiang.com
Kabupaten Aceh Tamiang adalah salah
satu kabupaten di Provinsi Aceh,
Indonesia.
Kabupaten yang merupakan hasil
pemekaran dari Kabupaten Aceh Timur
ini terletak di perbatasan Aceh-
Sumatera Utara. Istilah "Tamiang"
berasal dari kata Da Miang. Sejarah
menunjukkan tentang eksistensi
wilayah Tamiang seperti prasasti
Sriwijaya , kemudian ada riwayat dari
Tiongkok karya Wee Pei Shih yang
mencatat keberadaan negeri Kan Pei Chiang (Tamiang), atau
Tumihang dalam Kitab Nagar kretagama. Daerah
ini juga dikenal dengan nama Bumi
Muda Sedia , sesuai dengan nama Raja
Muda Sedia yang memerintah wilayah
ini selama 6 tahun (1330-1336). Raja
ini mendapatkan Cap Sikureung dan
hak Tumpang Gantung dari Sultan Aceh
atas wilayah Karang dan Kejuruan
Muda pada masa itu.
Kabupaten ini berada di jalur timur
Sumatera yang strategis dan hanya
berjarak lebih kurang 250 km dari Kota
Medan sehingga akses serta harga
barang di kawasan ini relatif lebih
murah daripada daerah Aceh lainnya.
Di samping itu, kawasan ini relatif lebih
aman semasa GAM berjaya dahulu.
Ketika seruan mogok oleh GAM
diberlakukan di seluruh Aceh, hanya
kawasan ini khususnya Kota Kuala
Simpang yang aktivitas ekonominya
tetap berjalan.
Potensi
Kabupaten Aceh Tamiang merupakan
kawasan kaya minyak dan gas, meski
jumlahnya tidak sebesar Kabupaten
Aceh Utara, dan kawasan ini juga
merupakan salah satu pusat
perkebunan kelapa sawit di Aceh. Di
samping itu, Aceh Tamiang juga
mengandalkan sektor angkutan karena
posisinya yang strategis, dan angkutan
air merupakan salah satu primadona
alternatif karena kabupaten ini dialiri
dua sungai besar yakni Sungai
Tamiang (yang terpecah menjadi
Simpang Kiri dan Simpang Kanan) dan
Sungai Kaloy. Kabupaten Aceh Tamiang
juga mengandalkan sektor pertanian,
industri pengolahan dan perdagangan.
Kabupaten Aceh Tamiang memiliki
beberapa tempat wisata yang hingga
saat ini perlu penataan yang serius dan
dikelola dengan baik. Air Terjun Tujuh
Tingkat, Bendungan, Gua Walet, Pantai
Seruway adalah beberapa contoh
tempat wisata di Aceh Tamiang yang
perlu mendapatkan perhatian untuk
dapat dikelola menjadi sumber
Pendapatan Asli Daerah.
Demografi
Kabupaten Aceh Tamiang merupakan
pecahan dari Kabupaten Aceh Timur
dan merupakan satu-satunya kawasan
di Aceh yang banyak bermukim etnis
Melayu (60%). Walaupun dalam jumlah
populasi suku Jawa (20%) lebih banyak
dibandingkan dengan etnis Melayu,
namun dalam pemerintahan orang
Melayu lebih dominan. Selain kedua
etnis tersebut, suku Aceh (15%) juga
banyak dijumpai di kabupaten ini. [3]
Pemerintahan
Bupati
Penjabat Bupati Ishak Djuned
menggantikan Abdul Latief yang
dilantik Gubernur Aceh Abdullah Puteh ,
tanggal 28 Agustus 2004. Bupati yang
sekarang adalah Abdul Latief bersama
wakilnya Awaluddin sebagai hasil
Pilkada untuk masa bakti 2007-2012.
Kecamatan
Banda
Mulia
Bandar
Pusaka
Bendahara
Karang
Baru
Kejuruan
Muda
Kota
Kuala
Simpang
Manyak
Payed
Rantau
Sekrak
PERSAHABATAN
...
Pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang
memanggil namaku. Aku melihat keluar. Ivan temanku
sudah menunggu diluar rumah kakekku dia mengajakku
untuk bermain bola basket.“Ayo kita bermain basket ke
lapangan.” ajaknya padaku. “Sekarang?” tanyaku dengan
sedikit mengantuk. “Besok! Ya sekarang!” jawabnya
dengan kesal.“Sebentar aku cuci muka dulu. Tunggu ya!”,
“Iya tapi cepat ya” pintanya.
Setelah aku cuci muka, kami pun berangkat ke lapangan
yang tidak begitu jauh dari rumah kakekku.“Wah dingin
ya.” kataku pada temanku. “Cuma begini aja dingin payah
kamu.” jawabnya.Setelah sampai di lapangan ternyata
sudah ramai. “Ramai sekali pulang aja males nih kalau
ramai.” ajakku padanya. “Ah! Dasarnya kamu aja males
ngajak pulang!”, “Kita ikut main saja dengan orang-orang
disini.” paksanya. “Males ah! Kamu aja sana aku tunggu
disini nanti aku nyusul.” jawabku malas. “Terserah kamu
aja deh.” jawabnya sambil berlari kearah orang-orang
yang sedang bermain basket.“Ano!” seseorang teriak
memanggil namaku. Aku langsung mencari siapa yang
memanggilku. Tiba-tiba seorang gadis menghampiriku
dengan tersenyum manis.
Sepertinya aku mengenalnya. Setelah dia mendekat aku
baru ingat. “Bella?” tanya dalam hati penuh keheranan.
Bella adalah teman satu SD denganku dulu, kami sudah
tidak pernah bertemu lagi sejak kami lulus 3 tahun lalu.
Bukan hanya itu Bella juga pindah ke Bandung ikut orang
tuanya yang bekerja disana. “Hai masih ingat aku nggak?”
tanyanya padaku. “Bella kan?” tanyaku padanya. “Yupz!”
jawabnya sambil tersenyum padaku. Setelah kami ngobrol
tentang kabarnya aku pun memanggil Ivan. “Van! Sini”
panggilku pada Ivan yang sedang asyik bermain basket.
“Apa lagi?” tanyanya padaku dengan malas. “Ada yang
dateng” jawabku. “Siapa?”tanyanya lagi, “Bella!” jawabku
dengan sedikit teriak karena di lapangan sangat berisik.
“Siapa? Nggak kedengeran!”. “Sini dulu aja pasti kamu
seneng!”. Akhirnya Ivan pun datang menghampiri aku dan
Bella.
Dengan heran ia melihat kearah kami. Ketika ia sampai
dia heran melihat Bella yang tiba-tiba menyapanya.
“Bela?” tanyanya sedikit kaget melihat Bella yang sedikit
berubah. “Kenapa kok tumben ke Jogja? Kangen ya sama
aku?” tanya Ivan pada Bela. “Ye GR! Dia tu kesini mau
ketemu aku” jawabku sambil menatap wajah Bela yang
sudah berbeda dari 3 tahun lalu. “Bukan aku kesini mau
jenguk nenekku.” jawabnya. “Yah nggak kangen dong
sama kita.” tanya Ivan sedikit lemas. “Ya kangen dong
kalian kan sahabat ku.” jawabnya dengan senyumnya yang
manis.
Akhinya Bella mengajak kami kerumah neneknya. Kami
berdua langsung setuju dengan ajakan Bela. Ketika kami
sampai di rumah Bela ada seorang anak laki-laki yang
kira-kira masih berumur 4 tahun. “Bell, ini siapa?”
tanyaku kepadanya. “Kamu lupa ya ini kan Dafa! Adikku.”
jawabnya. “Oh iya aku lupa! Sekarang udah besar ya.”.
“Dasar pikun!” ejek Ivan padaku. “Emangnya kamu inget
tadi?” tanyaku pada Ivan. “Nggak sih!” jawabnya malu.
“Ye sama aja!”. “Biarin aja!”. “Udah-udah jangan pada
ribut terus.” Bella keluar dari rumah membawa
minuman. “Eh nanti sore kalian mau nganterin aku ke
mall nggak?” tanyanya pada kami berdua. “Kalau aku
jelas mau dong! Kalau Ivan tau!” jawabku tanpa pikir
panjang. “Ye kalau buat Bella aja langsung mau, tapi kalau
aku yang ajak susah banget.” ejek Ivan padaku. “Maaf
banget Bell, aku nggak bisa aku ada latihan nge-band.”
jawabnya kepada Bella. “Oh gitu ya! Ya udah no nanti
kamu kerumahku jam 4 sore ya!” kata Bella padaku. “Ok
deh!” jawabku cepat.
Saat yang aku tunggu udah dateng, setelah dandan biar
bikin Bella terkesan dan pamit keorang tuaku aku
langsung berangkat ke rumah nenek Bella. Sampai
dirumah Bella aku mengetuk pintu dan mengucap salam
ibu Bella pun keluar dan mempersilahkan aku masuk. “Eh
ano sini masuk dulu! Bellanya baru siap-siap.” kata beliau
ramah. “Iya tante!” jawabku sambil masuk kedalam
rumah.
Ibu Bella tante Vivi memang sudah kenal padaku karena
aku memang sering main kerumah Bella. “Bella ini Ano
udah dateng” panggil tante Vivi kepada Bella. “Iya ma
bentar lagi” teriak Bella dari kamarnya. Setelah selesai
siap-siap Bella keluar dari kamar, aku terpesona
melihatnya. “Udah siap ayo berangkat!” ajaknya padaku.
Setelah pamit untuk pergi aku dan Bella pun langsung
berangkat. Dari tadi pandanganku tak pernah lepas dari
Bella. “Ano kenapa? Kok dari tadi ngeliatin aku terus ada
yang aneh?” tanyanya kepadaku. “Eh nggak apa-apa kok!”
jawabku kaget.Kami pun sampai di tempat tujuan. Kami
naik ke lantai atas untuk mencari barang-barang yang
diperlukan Bella. Setelah selesai mencari-cari barang
yang diperlukan Bella kami pun memtuskan untuk
langsung pulang kerumah. Sampai dirumah Bella aku
disuruh mampir oleh tante Vivi. “Ayo Ano mampir dulu
pasti capek kan?” ajak tante Vivi padaku. “Ya tante.”
jawabku pada tante Vivi.Setelah waktu kurasa sudah
malam aku meminta ijin pulang. Sampai dirumah aku
langsung masuk kekamar untuk ganti baju. Setelah aku
ganti baju aku makan malam. “Kemana aja tadi sama
Bella?” tanya ibuku padaku. “Dari jalan-jalan!” jawabku
sambil melanjutkan makan. Selesai makan aku langsung
menuju kekamar untuk tidur. Tetapi aku terus
memikirkan Bella.
Kayanya aku suka deh sama Bella. “Nggak! Nggak boleh
aku masih kelas 3 SMP, aku masih harus belajar.” bisikku
dalam hati.Satu minggu berlalu, aku masih tetap
kepikiran Bella terus. Akhirnya sore harinya Bella harus
kembali ke Bandung lagi. Aku dan Ivan datang kerumah
Bella. Akhirnya keluarga Bella siap untuk berangkat.
Pada saat itu aku mengatakan kalau aku suka pada
Bella.“Bella aku suka kamu! Kamu mau nggak kamu jadi
pacarku” kataku gugup.“Maaf ano aku nggak bisa kita
masih kecil!” jawabnya padaku. “Kita lebih baik Sahabatan
kaya dulu lagi aja!”Aku memberinya hadiah kenang-
kenangan untuknya sebuah kalung. Dan akhirnya Bella
dan keluarganya berangkat ke Bandung. Walaupun sedikit
kecewa aku tetap merasa beruntung memiliki sahabat
seperti Bella. Aku berharap persahabatan kami terus
berjalan hingga nanti.