Rabu, 05 Juni 2013
Kata Kata Motivasi
Kamis, 28 Maret 2013
Kata-Kata Nasehat Sesion-2
Orang yang paling jahat daripada penyebar fitnah adalah orang yang suka mendengarkan
mereka. Justeru, tidak akan ada penyebar fitnah apabila tidak ada yang mendengarnya.
Maafkanlah kesalahan masa lalu, tegaslah membebaskan diri untuk hidup seutuhnya sekarang, dan dimasa depan.
Arti penting manusia bukan terletak pada apa yang dia peroleh, melainkan apa yang sangat ia rindukan untuk diraih.
Jangan terlalu takut dan pilih-pilih terhadap tindakan yang anda ambil. Keseluruhan dari hidup ini adalah sebuah percobaan.
Kesederhanaan adalah kunci menjadi brilian.
Sahabat adalah mereka yg telah mengajarimu
bahwa kamu tidak sendiri menjalani hidup di dunia
Lebih baik menjaga mulut ttp tertutup & biarkan orang lain menganggap Anda bodoh, daripada membuka mulut & menegaskan semua anggapan mereka.
Harga sebuah kesuksesan besar adalah tanggung jawab.
Pegang mimpimu sekuat mungkin karena kalau hilang, hidup seperti burung tanpa sayap yang tidak dapat terbang.
Tak perlu menemukan seseorang yang sempurna untuk hidupmu, temukan seseorang yang menyadari betapa beruntungnya mereka memiliki kamu.
Jangan banggakan apa yang kamu punya. Banggakan bagaimana caramu mendapatkan
apa yang kamu punya.
Hidup punya banyak cara tuk menjatuhkanmu,
tapi yang benar-benar bisa menjatuhkanmu hanyalah sikapmu dalam menghadapinya.
Tak peduli seburuk apapun masa lalumu, ingatlah bahwa setiap hari baru adalah kesempatan tuk memulai hidup yg baru.
Seseorang yang membaca terlalu banyak
dan menggunakan otaknya terlalu sedikit akan menjadi kebiasaan malas untuk berpikir.
Terkadang, berbagi kesedihan itu baik untukmu. Bukan untuk merasa dikasihani, tapi agar kamu merasa tak hidup sendiri.
Kegagalan adalah sesuatu yang patut disyukuri
karena kita masih dikasih kesempatan untuk melakukan hal baik lainnya.
Orang yang hebat itu adalah orang sedih tapi tetap berusaha membahagiakan orang lain.
Kita lihat kebahagiaan itu seperti pelangi, tak
pernah berada diatas kepala kita sendiri, tapi selalu berada di atas kepala orang lain.
Jika kmu berpikir ttg hari kemarin tanpa rasa penyesalan & hari esok tanpa rasa takut, brarti
kmu sdh berada dijalan yg benar menuju sukses.
Jangan menilai seseorang hanya dari apa
yg dia lakukan, karena kamu juga harus tahu alasan mengapa dia melakukan.
Jangan mengeluhkan hal-hal buruk yg datang dalam hidupmu.Tuhan tak pernah memberikannya, kamulah yg membiarkannya datang.
Jika anda hilang segala-galanya, jangan lupa, kerana anda masih mempunyai masa depan.
Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemui cinta yang jauh lebih indah.
Emas diuji dengan api, wanita diuji dengan emas
dan lelaki diuji dengan wanita.
Dalam kerendahan hati adaketinggian budi. Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa. Dalam kesempitan hidup ada kekuasaan ilmu.
Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya, sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat
membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah.
Kekecewaan mengajar kita arti dari kehidupan.Teruskan perjuangan kita walaupun terpaksa menghadapi rintangan demi rintangan dalam hidup.
Senyum adalah satu pelabuhan yang pastinya
tidak akan merugikan.
Senyum adalah jembatan persahabatan.
Jangan sesali apa yang sudah pergi. Jangan tangisi apa yang sudah tiada.Tetapi bangkitlah dan bina kembali apa yang telah hilang dan pergi.
Makasih udah mau menyempatkan diri mampir disini serta membaca artikel Kata-Kata Nasehat, semoga saja menambah guna dan manfaat bagi kita semua.
Kata-Kata Nasehat Sesion-1
Jangan sekali-kali kita meremehkan sesuatu perbuatan baik walaupun hanya sekadar senyuman.
Dunia ini umpama lautan yg luas. Kita adalah kapal yg belayar di lautan telah ramai kapal karam didalamnya.. andai muatan kita adalah iman, dan layarnya takwa, nescaya kita akan selamat dari tersesat di lautan hidup ini.
Hidup tak selalunya indah tapi yang indah itu tetap hidup dalam kenangan.
Setiap yang kita lakukan biarlah jujur kerana kejujuran itu telalu penting dalam sebuah kehidupan. Tanpa kejujuran hidup sentiasa menjadi mainan orang.
Hati yg terluka umpama besi bengkok walau diketuk sukar kembali kepada bentuk asalnya.
Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi. Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa. Dalam kesempitan hidup ada kekuasaan ilmu.
Ikhlaslah menjadi diri sendiri agar hidup penuh dengan ketenangan dan keamanan. Hidup tanpa pegangan ibarat buih-buih sabun. Bila-bila masa ia akan pecah.
Kegagalan dalam kemuliaan lebih baik daripada kejayaan dalam kehinaan. Memberi sedikit dengan ikhlas pula lebih mulia dari memberi dengan banyak tapi diiringi dengan riak.
Tidak ada insan suci yang tidak mempunyai masa lampau dan tidak ada insan yang berdosa yang tidak mempunyai masa depan.
Kata-kata yang lembut dapat melembutkan hati yang lebih keras dari batu.Tetapi kata-kata yang kasar dapat mengasarkan hati yang lunak seperti sutera.
Lidah yang panjangnya tiga inci boleh membunuh manusia yang tingginya enam kaki.
Agama tidak pernah mengecewakan manusia. Tetapi manusia yang selalu mengecewakan agama.
Nafsu mengatakan perempuan itu cantik atas dasar rupanya. Akal mengatakan perempuan itu cantik atas dasar
ilmu dan kepintarannya. Dan hati mengatakan perempuan itu cantik atas dasar akhlaknya.
Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam di atas batu yang hitam di malam yang amat kelam. Ianya wujud tapi amat sukar dilihat.
Hidup memerlukan pengorbananan. Pengorbanan memerlukan perjuangan. Perjuangan memerlukan ketabahan.
Ketabahan memerlukan keyakinan. Keyakinan pula menentukan kejayaan. Kejayaan pula akan menentukan kebahagiaan.
Seseorang yang bijak melahirkan kata-kata selalunya disanjung sehingga ia mula bercakap kosong
Harta akan habis digunakan tanpa ilmu tetapi sebaliknya ilmu akan berkembang jika ianya digunakan.
Kekayaan bukanlah satu dosa dan kecantikan bukanlah satu kesalahan. Oleh itu jika anda memiliki kedua-duanya janganlah anda lupa pada Yang Maha Berkuasa.
Sahabat yang tidak jujur ibarat dapur yang berhampiran.Jikalau pun kamu tidak terkena jelaganya sudah pasti akan terkena asapnya.
Mengapa manusia gemar mencetuskan pertelingkahan sedangkan manusia itu sendiri dilahirkan dari sebuah kemesraan.
Kita sentiasa muda untuk melakukan dosa tetapi tidak
pernah tua untuk bertaubat.
Gantungkan azam dan semangatmu setinggi bintang di langit dan rendahkan hatimu serendah mutiara di lautan.
Setiap mata yang tertutup belum bererti ia tidur. Setiap mata terbuka belum bererti ia melihat.
Jadikan dirimu bagai pohon yang rendang di mana insan dapat berteduh. Jangan seperti pohon kering tempat sang pungguk melepas rindu dan hanya layak dibuat kayu api.
Menulis sepuluh jilid buku mengenai falsafah lebih mudah daripada melaksanakan sepotong pesanan/amanah.
Anak Rantau [Part-2]
"Maklum namanya juga anak baru jadi belum lokasi dan kondisi kerja nya,"
Tapi setelah itu aku di ajari oleh karyawan-karyawan senior,selama seminggu aku masih di bimbing cara kerja nya bagaimana,setelah seminggu lebih aku pun mulai menguasai lapangan.
Dua minggu tlah berlalu aku sudah akrab dengan karyawan 2 lainnya, tapi di samping aku sudah bekerja aku juga punya masalah sedikit di rumah tempat aku tinggal yaitu dirumah pamanku,tapi aku cuek mungkin itu hanya angin berlalu saja,
Dan setiap hari aku berangkat kerja aku di pinjami sepeda motor oleh anak pamanku karna anak pamanku tidak memakai sepeda motornya.
Setiap paginya aku selalu merawat sepeda motor tersebut kalau kotor kadang aku mencucinya, "maklum namanya juga sepeda motors pinjam",kebetulan pada hari itu pamanku tidak bekerja dan pamaku sedang merakit kerangka becak motor baru miliknya, aku pun mencoba membantunya,
Tak terasa jam sudah menunjukkan jam11,"waktunya berangkat kerja ne" kataku dalam hati. Akupun bergegas pergi mandi dan memakai seragam kerja dan pamit berangkat kerja,
Malamnya sepulang aku kerja aku langsung istirahat di depan tv, tiba-tiba istri pamanku menghampiriku dan mengatakan "amex kata paman tadi besok pagi cat krangka becak ya", kata istri pamanku sambil berlalu meninggalkanku yang sedang duduk kecape an.
"Iya",jawabku dengan lembut.
Keesokan paginya akupun bagun dan sarapan lalu pergi ke gudang untuk menjalankan perintah pamanku ngecat kerangka becaknya,
Setelah itu jam11.30 aku pun berangkat kerja kembali,
Sebulan sudah aku tinggal dirumah pamanku dan hari itu aku berangkat kerja seperti biasanya,sepulang kerja malam pada hari itu aku langsung masuk kamar dan tertidur karna terlalu lelah, hingga paginya aku kesiangan,aku terbangun sekitar jam9, saat aku merapikan tempat tidur aku mendengar paman sedang menceritakan tentang aku,dia bilang kalau pamankun beci melihat aku,katanya aku pakek sepeda motor anaknya gak mau isi minyak,gak mau ngerawat motornya,kotor gak mau nyucinya, kerjaan tidur aja,kalau bawa motor gak pernah pakek helm,dirumah mau enaknya aja,
Lalu yang aku terkejut aku mendengarnya kalau aku mau di usir dari rumahnya,
Padahal apa yang pamanku ungkapkan tersebut tidak ada sama sekali aku lakukan,malahan sebaliknya.
Siang itu dengan jam yang sama aku berngkat kerja saat aku mau ambil kunci motor aku melihat tidak ada,
Aku menanyakan kepada anak pamanku, lalu anak pamanku mengatakan kalau kuncinya sama pamanku tadi motornya dipakai,
Lalu anak pamanku memintanya kepada paman, alangkah terkejutnya aku mendengar perkataan pamanku,
""Biar jalan aja dia kalau gak uang buat beli minyak mau enaknya aja dia,bapak aja dulu pun jalan pergi kerja,jaman sekarang mana ada yang geratis,kalau mau kerja usaha sendiri jangan cari enaknya aja"",
Itulah perkataan yang keluar dari mulut pamanku,orang yang selama ini aku anggap baik.
Akhirnya aku beranjak pergi berangkat kerja dengan berjalan kaki, sambil bejalan aku terus brpikir kesalah apa yang aku lakukan hingga pamanku benci kepada aku.
Akhirnya malam sepulang kerja aku mengemas seluruh pakaianku ke dalam tas dan pamit pergi dengan alasan tinggal di asrama tempat aku bekerja,yang padahal aku tidak tau mau kemana.
Akhirnya aku memutuskan untuk menginap di masjid untuk semalam,
"Nasib anak perantau", kataku dlm hati.
Dan pada akhirnya aku mulai mencari rumah kontrakan, setelah dapat rumah kontrakan hidupku mulai normal-normal aja,smpai akhirnya akupun tidak bekrja lagi dan memutuskan untuk pulang kampung. *
TAMAT ...
Senin, 18 Maret 2013
Pulau Weh
Saya kembali ke Pulau Weh setelah hampir lima tahun berselang. Keindahan pulau ini tetap tidak pudar walau kini makin ramai wisatawan berdatangan. Dari Banda Aceh, saya menumpang kapal feri cepat dari pelabuhan Ulee Lheue. Karena datang pada musim liburan, tiket harus dibeli beberapa hari sebelumnya.
Pantai Sumur Tiga yang sepi dan damai.
Sayangnya, ternyata punya tiket tidak menjamin saya dapat naik ke kapal karena tiket yang dijual jauh melebihi kapasitas kapal. Calon penumpang harus antre, dan bila kapal sudah penuh, bahkan yang sudah punya tiket pun harus menunggu kapal berikutnya.
Beruntung saya berhasil masuk ke ke dalam kapal dan mendapatkan sebuah kursi, sementara suami saya terpaksa duduk di lantai. Satu jam dalam kapal yang penuh sesak dengan ombak yang besar tampaknya cukup berat bagi beberapa penumpang. Kami tiba dengan selamat di Pelabuhan Balohan, Pulau Weh.
Memilih akomodasi di Pulau Weh tidak terlalu sulit, wisatawan biasanya memilih di Iboih, Sumur Tiga, atau Sabang. Jumlah penginapan di pulau ini meningkat drastis sejak terakhir saya ke sini. Kali ini saya memilih menginap di Sumur Tiga.
Lalu, apa saja yang menarik di Pulau Weh. Jawaban termudah tentu saja adalah pantainya. Pantai Sumur Tiga ibaratnya hanya beberapa langkah dari pintu kamar penginapan saya. Pantainya berpasir putih dan bersih, hanya ramai saat akhir pekan atau liburan. Kalau malam suasananya romantis, cocok untuk duduk-duduk sambil menikmati kopi.
Keesokan harinya, menggunakan sepeda motor sewaan, saya menuju ke Iboih. Pantai Iboih diapit oleh Selat Malaka dan Samudera Hindia. Biasanya di sinilah titik awal keberangkatan wisatawan yang ingin menyelam atau melakukan snorkeling. Tidak heran, di pinggir-pinggir pantai terdapat penyewaan jaket pelampung dan peralatan snorkeling. Beberapa operator selam juga berada di ruko-ruko di pinggir pantai ini.
Berbeda dengan Sumur Tiga yang sepi, Iboih sangat ramai. Bus-bus besar mengangkut rombongan wisatawan, demikian juga dengan mobil pribadi dan sepeda motor. Namun, keramaian ini tidak mengurangi keindahan Iboih.
Perairan di sekitar Pulau Weh adalah salah satu titik penyelaman favorit di Indonesia. Suami saya sempat menyelam di sini, dan menurutnya keindahan bawah laut di sekitar Pulau Weh tidak kalah dengan Bunaken dan Derawan.
Pulau Rubiah yang berada di sebelah barat laut Pulau Weh juga sering dikunjungi wisatawan. Nah, laut antara Pulau Rubiah dan Pulau Weh ini memiliki keragaman hayati yang luar biasa. Di sinilah biasanya wisatawan dibawa untuk melakukan snorkeling.
Selain wisata pantai, tidak afdol rasanya bila berkunjung ke Pulau Weh tanpa menyempatkan diri ke Tugu Nol Kilometer. Letak tugu ini sekitar 8 kilometer arah barat Iboih. Sebenarnya tugunya sendiri tidak menarik, hanya merupakan sebuah bangunan yang kotor dan tidak terawat. Selain itu, banyak juga coretan di dinding Tugu Nol Kilometer ini.
Tugu ini terdiri dari dua lantai. Di lantai yang bertama terdapat prasasti peresmian tugu oleh wakil presiden RI pada saat itu, Try Sutrisno, pada tahun 1997. Di lantai kedua terdapat prasasti yang bertuliskan posisi geografis Tugu Nol Kilometer ini.
Saya tidak berlama-lama berada di tugu karena saat itu kondisinya sangat ramai. Pengunjung berdesak-desakan untuk bergantian foto dengan prasasti. Kabarnya, pemandangan matahari tenggelam yang terlihat di laut barat Tugu Nol Kilometer sangat indah, namun sayang saya berkunjung saat tengah hari.
Ketika pulang dari Tugu Nol Kilometer menuju ke penginapan di Sumur Tiga, beberapa kali saya berhenti untuk mengambil gambar. Di Gapang, saya sempat terpukau melihat keindahan Pulau Rubiah. Saat itu langit biru bersih dipadu dengan pulau yang hijau dan laut yang berwarna biru jernih. Di sebuah warung kecil, saya menyesap kopi sambil menikmati indahnya alam di ujung barat nusantara ini.
Senin, 10 Desember 2012
ANAK RANTAU [Part-1]
Karya : Putroe Bendahara
Fb . : vjii1985@ymail.com
Twitt. :vjsmart@ymail.com
Akhirnya sampai juga di kota banda aceh,"dengan senyum dan penuh harapan, sambil perlahan-lahan melangkah turun dari dalam bus yang di tumpanginya,pemuda ini berharap kalau kota banda aceh ini akan merubah hidupnya.
Sebelumnya,kenalkan nama saya rahmad,lahir 06 agustus 1988,saya tergolong orang yang pendiam tidak banyak bicara kalau tidak terlalu penting,saya awalnya kerja di aceh tamiang di salah satu tempat wisata di aceh tamiang yaitu taman air atau lebih di kenal dengan nama Water Boom/Kolam Renang,""???
Saya sering di panggil oleh teman-teman Dengan sebutan "amex",sekarang saya di kota banda aceh ingin mencari suasana baru dan saya sudah lama berhenti bekerja di kolam renang.
Sebulan sudah saya di kota banda aceh tapi belum ada pekerjaan yang saya dapatkan,sementara uang di kantong sudah menipis,""saya sempat berfikir "ternyata tak segampang yang ku bayangkan mencari kerja di kota banda aceh",
Tapi aku gak putus asa untuk semuanya,"aku yakin aku pasti akan dapat pekerjaan""itu lah yang aku katakan dalam hati.
Hari demi hari terus aku jalani di kota yang panas ini,kota banda aceh ini terkenal dengan panasnya karna kota banda aceh di kelilingi laut.
Satu bulan setengah tlah berlalu namun belum juga dapat pekerjaan,sementara uang di kantong pun sudah habis total,
Aku bingung apa yg harus aku lakukan lagi,sementara di kota banda aceh tidak banyak yang aku kenal,aku memilih untuk tinggal bersama keluarga orang tua ku di kampung ketapang,tepatnya di kompleks prumnas.
Satu hari sudah aku tinggal dirumah ini,semua terlihat biasa saja,sepertinya mereka semua senang aku tinggal disini,tapi kalau dari sudut pandanganku ada yang janggal dari salah satu yang tinggal dirumah ini,tapi aku berfikir "ah ini mungkin perasaanku saja yang gak enak" kata dalam hatiku.
Uang sudah habis,tapi belum dapat kerja,itu lah gumam ku,"esok paginya ak bantu-bantu wawakku bersihkan becaknya,anaknya bekerja narik becak motor,kebetulan hari ini tidak narik,rencananya sih mau betulin apa kerusakannya sekaligus service mesin,jadi aku coba membantunya dari pada gak ada kerjaan.
Akhirnya selesai juga,tiba-tiba hpku pun berdering ternyata temanku yang menelpon dan tanya-tanya kabar dan dia tanya tentang aku udah dapat kerjaan apa belum,dan aku menjawab belum ada,
Akhirnya dia nawarin kerjaan di salah satu rumah makan di banda aceh,kata nya sih ada temannya di rumah makan itu,akhirnya aku mau dan menanyakan syarat-syaratnya,ke esokan harinya aku langsung buat surat lamaran kerja dan foto copy ijazah dan ktp,sorenya langsung aku antarkan ke rumah makan tersebut.
Sehabis shalat magrib tiba-tiba ada sms masuk begitu aku buka ternyata isinya" ""Kepada Bapak Rahmad Besok datang kesimpang tiga lamteumen Jam 12.00 wib,Untuk interview dengan memakai baju putih, celana hitam, dan sepatu hitam,"" itu lah isi sms nya.
""Alhamdulillah bisa dapat kerja juga"", kataku dalam hati. Paginya aku sempat berfikir naik apa pergi kesana,tapi anak wawak tanya "jam berapa interview nya", tanya nya agak serius. "Jam 12 siang", jawabku sedikit bingung."oh bawa ja kreta supra tu,awak gak pakek kok", katanya, memberikan izin pinjam kretanya. Aku hanya mengangguk saja,sekitar jam 11.30 aku keluarkan speda motor nya dan memanasi sejenak mesinnya,dan aku langsung pergi mandi,setelah itu aku langsung pergi ke rumah makan tersebut untuk interview,sesampai di tempat tersebut akhirnya aku tanyakan salah satu karyawan,""mau interview ya bang,tunggu aja di situ", kata karyawan tersebut.
Lama juga aku menunggu orang yang akan interview aku,tapi gak lama kemudia ada seseorang yang menghampiri ku,"kamu yang namanya rahmad ya", kata seseorang tersebut. "Iya bang", jawabku agak heran. "yok masuk keruangan "v.i.p",katanya sembari mengajak. dan aku langsung ikut dari belakang sambil berjalan""??,
Satu jam berlalu interview selesai dan aku di terima bekerja,dan hari itu juga adalah hari pertama aku bekerja,aku agak sedikit kaku karna mungkin belum terbiasa,"maklum lah namanya juga anak baru jadi belum tau suasana dan kondisi kerjanya.
Senin, 03 Desember 2012
WALI NANGGROE ATAU WALI NEGARA
MEMBACA beberapa tulisan yang
mengulas tentang Wali Nanggroe
termasuk pandangan beragam yang
berkembang selanjutnya yang
dinisbahkan kepada Tgk Hasan Tiro, saya
ingin menambahkan informasi mengenai
makna kata “Wali Nanggroe” itu sendiri
yang cenderung a historis karena tidak
merujuk pada buku atau tulisan Tgk
Hasan Tiro itu sendiri dimana beliau tidak
pernah mengatakan sebagai Wali
Nanggroe melainkan sebagai Wali Negara.
Secara singkat, padat dan hematnya sbb:
Sepengetahuan saya, kata “Wali
Nanggroe” dengan “Wali Negara” adalah
berbeda maknanya. Sebutan “Wali
Nanggroe” tidak lepas dari konteks
sejarah Aceh, sehingga kata “Nanggroe”
bukan bahasa Aceh terjemahan yang tepat
untuk “Negara”, karena kata “Negara”
bahasa Acehnya adalah “Neugara”,
sedangkan kata “Negeri” dalam bahasa
Aceh adalah “Nanggroe” (Kamus
Indonesia-Aceh, oleh M Hasan Basri, hlm
626, Yayasan Cakra Daru 1994).
Istilah tersebut dalam konteks sejarah
Aceh lebih jelas jika seandainya
dipahamkan kedalam bahasa Inggris
Head of state untuk Wali Negara dan
Guardian untuk Wali Nanggroe. Contoh
lainnya, kata “Wali Negara” dan “Wali
Nanggroe” hampir sama kata namun
berbeda maknanya, seperti kata Country
dan County dalam bahasa Inggris.
Almarhum Tgk Hasan di Tiro sendiri tidak
pernah mengatakan dirinya sebagai Wali
Nanggroe melainkan sebagai Wali Negara
sejak 1976. (Sumber: buku The Price of
Freedom: The Unfinished Diary of Tgk
Hasan di Tiro, kolom The Genealogy of the
Tengku Chik di Tiro, hlm. 141 dan juga
terjemahan buku Jum Meurdéhka,
Seuneurat Njang Gohlom Lheuëh pada
kolom yang sama).
Silsilah sebagai Wali Negara tersebut
sebagai berikut: 1. Tgk Sjech Muhammad
Saman (1874-1891) 2. Tgk M Amin
(1891-1896) 3. Tgk Bèd/Ubaidullah
(1896-1899) 4. Tgk. Lambada
(1899-1904) 5. Tgk Mahjeddin
(1904-1910) 6. Tgk Ma’at (1910-1911) 7.
Tgk M Hasan (1976-2010).
Sedangkan informasi yang terdapat
dalam buku beliau yang lain di antaranya,
Acheh - New Birth of Feedom yang
diterbitkan oleh parlemen Inggris House of
Lords, 1 Mei, 1992, dalam appendix II,
nama Tengku Hasan di Tiro termaktub
sebagai penguasa (ruler) Aceh yang ke-41
yang dimulai pada Sultan Ali Mughayat
Syah (1500-1530) sampai kepada dirinya
(1976-2010). Sekali lagi, dari semua
tulisan buku beliau, almarhum Tgk Hasan
di Tiro cendrung mengatakan kalau
dirinya sebagai Wali Negara bukan Wali
Nanggroe.
Sedikit tambahan, sebutan Wali Negara
juga pernah dialami oleh Tgk Daud
Beureuéh saat mendirikan gerakan Darul
Islam, yang berlanjut pada pendirian
Republik Islam Aceh (RIA), namun suksesi
Wali Negara setelah beliau almarhum
tidak berlanjut. Hampir sama kejadiannya,
sejak Tgk Hasan di Tiro wafat, belum ada
seorang pun, baik yang berasal dari
keturunan keluarga di Tiro maupun
bukan, yang mengklaim dirinya sebagai
pengganti Wali Negara.
Penurunan makna pemahaman kata Wali
Negara menjadi Wali Nanggroe serupa
seperti pemaksaan kata Aceh yang
beridentitas sebagai sebuah bangsa kini
menjadi sebuah suku, padahal suku di
Aceh itu misalnya Suku Alas, Aneuk
Jamee, Gayo, Gayo Luwes, Kluet,
Simeulue, Singkil, Tamiang.
Seyogyanya, opini yang berkembang
menyangkut kontroversial klaim
seseorang sebagai Wali Nanggroe ke 9
perlu dikaji ulang menurut sejarah Aceh
atau referensi dari buku karya Tgk Hasan
Di Tiro. Demikian juga, patut
dipertanyakan atas dasar hukum apa,
oleh siapa, di mana dan kapan Malik
Mahmud diangkat langsung sebagai Wali
Nanggroe ke-9 sedangkan dalam
berhitung saja dimulai dengan angka 1,
bukan 9.
Dalam dinamika politik, informasi yang
diulang-ulang dalam kehidupan sehari-
hari meskipun keliru akan menjadi sebuah
kebenaran, meskipun ditoreh sebagai
bagian dalam sejarah. Walaupun
demikian, tidak boleh menjadi sebuah
justifikasi fakta karena sembari mengutip
para mubaligh yang sering mengatakan
“Qul al haqq wa law kana
murran” (Katakan yang benar walaupun
pahit--akibatnya).
PERSAHABATAN SUNYI
DI sebuah jembatan penyeberangan tak beratap, matahari
menantang garang di langit Jakarta yang berselimut karbon
dioksida. Orang-orang melintas dalam gegas bersimbah peluh
diliputi lautan udara bermuatan asap knalpot. Lelaki setengah
umur itu masih duduk di situ, bersandarkan pagar pipa-pipa
besi, persis di tengah jembatan. Menekurkan kepala yang
dibungkus topi pandan kumal serta tubuh dibalut busana
serba dekil, tenggorok di atas lembaran kardus bekas air
kemasan. Di depannya sebuah kaleng peot, nyaris kosong dari
uang receh logam pecahan terkecil yang masih berlaku. Dan,
di bawah jembatan, mengalir kendaraan bermotor dengan
derasnya jika di persimpangan tak jauh dari jembatan itu
berlampu hijau. Sebaliknya, arus lalu lintas itu mendadak
sontak berdesakan bagai segerombolan domba yang terkejut
oleh auman macan, ketika lampu tiba-tiba berwarna merah.
Lelaki setengah umur yang kelihatan cukup sehat itu akan
"tutup praktik" ketika matahari mulai tergelincir ke Barat.
Turun dengan langkah pasti menuju lekukan sungai hitam di
pinggir jalan, mendapatkan gerobak dorong kecil beroda besi
seukuran asbak. Dari dalam gerobak yang penuh dengan
buntelan dan tas-tas berwarna seragam dengan dekil
tubuhnya, ia mencari-cari botol plastik yang berisi air entah
diambil dari mana, lalu meminumnya. Setelah itu ia bersiul
beberapa kali. Seekor anjing betina kurus berwarna hitam
muncul, mengendus-endus dan menggoyang-goyangkan
ekornya. Ia siap berangkat, mendorong gerobak kecilnya
melawan arus kendaraan, di pinggir kanan jalan. Anjing kurus
itu melompat ke atas gerobak, tidur bagai anak balita yang
merasa tenteram di dodong ayahnya.
Melintasi pangkalan parkir truk yang berjejer memenuhi
trotoar, para pejalan kaki terpaksa melintas di atas aspal
dengan perasaan waswas menghindari kendaraan yang
melaju. Lelaki itu lewat begitu saja mendorong gerobak
bermuatan anjing dan buntelan-buntelan kumal miliknya
sambil mencari-cari puntung rokok yang masih berapi di
pinggir jalan itu, lalu mengisapnya dengan santai. Orang-
orang menghindarinya sambil menutup hidung ketika
berpapasan di bagian jalan tanpa tersisa secuil pun pedestrian
karena telah dicuri truk-truk itu.
Lelaki setengah umur itu memarkir gerobak kecilnya di bawah
pokok akasia tak jauh setelah membelok ke kanan tanpa
membangunkan anjing betina hitam kurus yang terlelap di
atas buntelan-buntelan dalam gerobak itu. Ia menepi ke
pinggir sungai yang penuh sampah plastik, lalu kencing begitu
saja. Ia tersentak kaget ketika mendengar anjingnya terkaing.
Seorang bocah perempuan ingusan yang memegang
krincingan dari kumpulan tutup botol minuman telah
melempari anjing itu. Lelaki itu berkacak pinggang, menatap
bocah perempuan ingusan itu dengan tajam. Bocah
perempuan ingusan itu balas menantang sambil juga berkacak
pinggang. Anjing betina hitam kurus itu mengendus-endus di
belakang tuannya, seperti minta pembelaan.
Lelaki itu kembali mendorong gerobak kecilnya dengan bunyi
kricit- kricit roda besi kekurangan gemuk. Anjing betina kurus
berwarna hitam itu kembali melompat ke atas gerobak,
bergelung dalam posisi semula. Bocah perempuan yang
memegang krincingan itu mengikuti dari belakang dalam jarak
sepuluh meteran. Bayangan jalan layang tol dalam kota,
melindungi tiga makhluk itu dari sengatan matahari.
Sementara lalu lintas semakin padat, udara semakin pepat
berdebu.
Tiba-tiba, lelaki setengah umur itu membelokkan gerobak
kecilnya ke sebuah rumah makan yang sedang padat
pengunjung. Dari jauh, seorang satpam mengacung-acungkan
pentungannya tinggi-tinggi. Lelaki itu seperti tidak
memedulikannya, terus saja mendorong hingga ke lapangan
parkir sempit penuh mobil di depan restoran itu. Sepasang
orang muda yang baru saja parkir hendak makan, kembali
menutup pintu mobilnya sambil menutup hidung ketika lelaki
itu menyorongkan gerobaknya ke dekat mobil sedan hitam itu.
Seorang pelayan rumah makan itu berlari tergopoh- gopoh
keluar, menyerahkan sekantong plastik makanan pada laki-laki
itu sambil menghardik.
"Cepat pergi!"
LELAKI setengah umur itu menghentikan gerobak kecilnya di
depan sebuah halte bus kota. Mengeluarkan beberapa koin
untuk ditukarkan dengan beberapa batang rokok yang dijual
oleh seorang penghuni tetap halte itu dengan gerobak
jualannya. Orang-orang yang berdiri di dekat gerobak rokok itu
menghindar tanpa peduli. Halte itu senantiasa ramai karena
tak jauh dari situ ada satu jalur pintu keluar jalan tol yang
menukik dan selalu sesak oleh mobil-mobil yang hendak
keluar. Lelaki itu meneruskan perjalanannya menuju kolong
penurunan jalan layang tol itu. Meski berpagar besi, telah lama
ada bagian yang sengaja dibolongi oleh penghuni-penghuni
kolong jalan layang itu untuk dijadikan pintu masuk. Tempat
lelaki setengah umur itu di pojok yang rada gelap dan
terlindung dari hujan dan panas. Dari dulu tempatnya di situ,
tak ada yang berani mengusik. Kecuali beberapa kali ia
diangkut oleh pasukan tramtib kota, lalu kemudian dilepas dan
kembali lagi ke situ. Ia lalu membongkar isi gerobaknya,
mengeluarkan lipatan kardus dan mengaturnya menjadi tikar.
Anjing betina berwarna hitam kurus itu mengibas-ngibaskan
ekornya ketika lelaki itu mengambil sebuah piring plastik dari
dalam buntelan, lalu membagi makanan yang didapatnya dari
rumah makan tadi. Keduanya makan dengan lahap tanpa
menoleh kanan-kiri.
Bocah perempuan ingusan itu berdiri dari jauh di bawah
kolong jalan layang itu, memandang dengan rasa lapar yang
menyodok pada dua makhluk yang sedang asyik menikmati
makan siang itu. Ia memberanikan dirinya menuju kedua
makhluk itu, lalu bergabung makan dengan anjing betina
berwarna hitam kurus itu. Ternyata anjing betina itu penakut.
Ia menghindar dan makanan yang tinggal sedikit itu
sepenuhnya dikuasai bocah perempuan itu dan ia melahapnya.
Sedang lelaki setengah umur itu tidak peduli, meneruskan
makannya hingga licin tandas dari daun pisang dan kertas
coklat pembungkus. Mengeluarkan sebuah botol air kemasan
berisi air, meminumnya separuh. Tanpa bicara apa- apa,
bocah perempuan ingusan itu menyambar botol itu dan
meminumnya juga hingga tandas. Lelaki setengah umur itu
hanya memandang, sedikit terkejut, tapi tidak bicara apa-apa.
Air mukanya tawar saja. Mengeluarkan rokok dan
membakarnya sambil bersandar pada gerobak kecilnya.
Tergeletak tidur setelah itu di atas bentangan kardus kumal.
MALAM telah larut. Bocah perempuan ingusan itu terbirit-birit
dikejar gerimis yang mulai menghujan. Rambutnya yang nyaris
gimbal itu kini melekat lurus-lurus di kulit kepalanya disiram
gerimis. Bunyi krincingan dan kresek-kresek kantong plastik
yang dibawanya membangunkan anjing betina kurus berwarna
hitam itu. Ia menyalak sedikit, kemudian merungus setelah
dilempari sepotong kue oleh bocah itu. Lewat penerangan
jalan, samar- samar dilihatnya lekaki setengah umur itu tidur
bergulung bagai angka lima di atas kardus. Setelah melahap
kue, anjing itu kembali tidur di sebelah tuannya, di atas
bentangan kardus yang tersisa.
Bocah itu mengeluarkan lilin dan korek api dari dalam kantong
plastik. Berkali-kali menggoreskan korek api, padam lagi oleh
tiupan angin bertempias. Lalu ia mendekat ke arah lelaki
setengah umur itu agar lebih terlindung oleh angin dan
berhasil menyalakan lilin. Bocah itu melihat ujung lipatan
kardus tersembul dari dalam gerobak kecil di atas kepala lelaki
setengah umur itu. Ia berusaha menariknya keluar tanpa
menimbulkan suara berisik dan membangunkan lelaki itu.
Setelah berhasil, ia membaringkan dirinya yang setengah
menggigil karena pakaiannya basah. Merapat pada tubuh
lelaki yang memunggunginya itu, sekadar mendapatkan
imbasan panas dari tubuh lelaki itu.
Bocah perempuan ingusan itu cepat terlelap dan bermimpi
berperahu bersama anjing betina kurus berwarna hitam itu di
sebuah danau yang sunyi. Deru mesin mobil yang melintasi
jembatan beton di atas mereka justru menimbulkan rasa
tenteram, rasa hidup di sebuah kota yang sibuk. Lelaki
setengah umur itu juga sedang bermimpi tidur dengan
seorang perempuan. Ketika ia membalikkan badannya, ia
menangkap erat-erat tubuh bocah yang setengah basah itu
dan melanjutkan mimpinya.
Sebelumnya, kolong penurunan jalan layang tol itu cukup
padat penghuninya di malam hari. Beberapa anak jalanan
yang sehari- hari mengamen di sepanjang jalan bawah, juga
bermalam di situ. Ada lima anak jalanan laki-laki yang selalu
menjahili bocah perempuan yang selalu membawa krincingan
itu sampai menangis berteriak-teriak. Lelaki setengah umur itu
membiarkannya saja. Mungkin menurutnya sesuatu yang
biasa-biasa saja, meskipun anak-anak lelaki itu sampai-
sampai menelanjangi bocah perempuan ingusan itu. Penghuni
lain pun tak ada yang berani membela. Sejak itu, bocah
perempuan ingusan itu menghilang, entah tidur di mana.
Lelaki setengah umur itu mulai marah ketika suatu hari ia
membawa seekor anjing betina kurus berwarna hitam ke
markasnya. Mungkin anjing itu kurang sehat hingga
semalaman anjing itu terkaing-kaing. Lelaki itu tampak
berusaha keras mengobati anjing itu dengan menyuguhkan
makanan dan air. Tapi, anak-anak jalanan yang jahil itu
melempari anjing itu dengan batu. Salah satu batunya
mengenai kepala lelaki itu. Lelaki itu meradang, lalu
mengambil golok di dalam timbunan buntelan dalam gerobak
kecilnya. Anak-anak itu dikejarnya. Konon salah seorang
terluka oleh golok itu. Namun, mereka tak ada yang berani
melawan dan tak berani kembali lagi.
SEBELUM subuh, pasukan tramtib itu datang lagi, lengkap
dengan polisi dan beberapa truk dengan bak terbuka
pengangkut gelandangan. Sebelum matahari muncul, kolong-
kolong jembatan dan jalan layang harus bersih dari manusia-
manusia kasta paling melata itu. Mimpi lelaki itu tersangkut
bersama gerobaknya di atas bak truk. Begitu juga bocah
perempuan itu. Lelaki setengah umur itu menggapai-gapaikan
tangannya, minta petugas menaikkan anjingnya yang
menyalak-nyalak, minta ikut bersama tuannya. Tapi, sebuah
pentungan kayu telah mendarat di kepala anjing kurus itu
hingga terkaing-kaing, berlari ke seberang jalan dan hilang
ditelan kegelapan.
"Mampus kau, anjing kurapan!" sumpah petugas itu sambil
melompat ke atas truk yang segera berangkat.
Bak truk terbuka itu nyaris penuh, termasuk tukang rokok di
halte dekat situ. Lelaki setengah umur itu tampak geram.
Matanya mencorong ke arah petugas yang memegang
pentungan. Petugas itu pura-pura tidak melihat. Hujan telah
berhenti. Iringan truk yang penuh manusia gelandangan kota
yang dikawal mobil polisi bersenjata lengkap di depannya,
menuju ke suatu tempat arah ke Utara, dan kemudian
membelok ke kanan. Dari pengeras suara di puncak-puncak
menara masjid terdengar azan subuh bersahut-sahutan. Bulan
semangka tipis masih menggantung di langit, kadang-kadang
tertutup awan yang bergerak ke Barat.
BEBERAPA minggu kemudian, pelintas jembatan
penyeberangan yang beratap itu, kembali menemukan lelaki
setengah umur itu berpraktik di tempat sebelumnya. Ia baru
turun mengemasi kaleng peot dan alas kardusnya ketika
matahari mulai tergelincir ke Barat. Melangkah dengan pasti,
menuju tempat gerobak kecilnya ditambatkan.
Di depan pangkalan truk yang telah menyempitkan jalan, lelaki
itu mendorong gerobak kecilnya dengan santai sambil
mengawasi puntung-puntung rokok yang masih berapi
dilempar sopir-sopir truk ke jalan. Ada yang sengaja
melemparkan puntung rokoknya ketika laki- laki bergerobak itu
melintas. Di atas gerobaknya, kini bertengger bocah
perempuan ingusan itu sambil terus bernyanyi dengan iringan
krincingannya. Orang-orang tak ada yang peduli.**
MATA YANG BERLABUH
Karya: Putroe Bendahara
Matahari kelabu. Udara bisu.Tak ada
suara lengkingan renyai yang menyeruak
seperti biasanya setiap kali ia jejakkan
kaki di daratan yang berpasir. Tidak pula
suara perempuan yang lantang, yang
dengan lari-lari kecilnya, menghalau anak
yang berlarian di depannya itu dari air
laut yang merambati kaki mereka.
semuanya telah menghilang.
Tapi masih ada yang belum ditemukan.
Karena itu, Abdullah, laki-laki yang
berjalan terseok itu, terus mencari-cari.
Tangannya telah lelah, hampir tak
sisakan tenaga. Tapi gelombang di
dadanya lebih besar daripada kehendak
tubuhnya. Ia paksakan kakinya
melangkah meski nyeri mulai menusuk
pada memar kakinya.
Abdullah hentikan langkah. Layangkan
matanya pada langit. Ia tidak tahu lagi
apakah ini siang atau malam. Waktu telah
berhenti sejak peristiwa itu. Tapi ia butuh
waktu untuk mengais sisa tenaganya.
Lalu apa yang masih menggerakkannya?
Tubuh? Tidak. Tubuh itu sudah tidak
berfungsi lagi. Namun, kalau pun kaki itu
harus dicabut dari tungkainya, Abdullah
akan terus berjalan. Semuanya memang
telah sirna. Tapi masih ada yang
tertinggal. Karena itu, ia masih mencari.
Sepanjang beberapa depa, Abdullah
kembali menghentikan langkah. Kakinya
dilanda nyeri. Seribu semut merah seperti
menggigiti urat kakinya. Abdullah
Memijit-mijitnya dengan perlahan. Hanya
istirahat sejenak. Sebab sesudahnya,
dengan rasa sakit yang masih menyisa,
Abdullah berjalan kembali.
Mungkin rasa sakit itu sudah hilang.
Bersama tumpahan air mata yang
membanjir berhari-hari sebelumnya
hingga tak menyisa. Meskipun ia minum
seluruh air laut di Pantai Ulee Lheu, itu
takkan bisa menggantinya. Abdullah pun
telah menghapus air mata itu dalam
catatan di darahnya. Seperti beku telah
membungkus hatinya. Hanya dengan
mata ia berjalan. Mata yang
gelap.Berhari-hari yang lalu, Abdullah
telah jelajahi seluruh tempat. Puing-puing
yang luruh. Mayat-mayat yang serak. Ada
tetangganya, teman melaut, teman
anaknya yang sering menunggui kapal
ikan datang, penjaga surau kampung.
Namun ia tak ada di sana. Karena itu,
Abdullah terus mencari.''Sudahlah,
Abdullah. Istirahatlah sejenak. Badanmu
sudah letih.''
Ia tidak begitu awas, apakah itu suara
istrinya atau tetangganya.
''Nanti saja.
Aku selesaikan dulu pekerjaan ini. Nanti
aku kembali.''
Tidak. Ia telah berbohong pada istrinya.
Kembali? Aku belum menemukan yang
kucari, maka aku tidak akan kembali.
Lagipula kemana aku akan kembali?
Abdullah menggeleng-gelengkan
kepalanya. Tak kan ada langkah surut,
suara hati Abdullah kuatkan
langkahnya.Istrinya memang memahami
sikapnya. Batu yang keras itu tak akan
mudah dilebur dalam satu pukulan
kampak.''Anakmu sudah menanti.
Mengapa engkau masih tak tahu juga,
Abdullah. Bukankah engkau tahu mereka
sudah menantimu untuk makan
siang.''Sedetik tubuh Abdullah mengeras.
Matanya tajam menentang ke atas. Ada
yang dicarinya di sana. Tapi tak ada apa-
apa. Langit tak biru.
Merah memantul dari lensa matanya.
Hanya angin yang berkesiur. Selebihnya
tak ada.
''Nantilah. Nanti saja. Aku belum ingin
pulang.''
''Apa yang kau cari, wahai Abdullah? Kau
tak turuti anjuran istrimu.
Mengapa engkau masih bengal juga,
Abdullah!
''Itu suara ayahnya. Suaranya keras,
seperti dirinya. Abdullah tak peduli.
''Kemana engkau akan pergi, anakku?''
perempuan yang matanya kelabu
memanggilnya serupa angin.''Tak usah
hiraukan aku, Bu.''Abdullah terus
berjalan. Kakinya yang menyusut dari
waktu ke waktu dan makin kehilangan
daya tak mampu kalahkan kehendaknya.
Mayat-mayat bergelimpangan seperti rongsokan. Bau sengat
yang mengundang kerumunan lalat menggunduk di setiap
setiap tempat. Tapi Abdullah tak hiraukan itu. Matanya yang
berpijar merah melata, susuri setiap mayat yang
bergelimpangann itu. Tangannya mengorek satu demi satu
mayat yang terhampar di kakinya.
''Ia tak ada di sana !''
Ibunya berseru. Rambut peraknya berkeriyap dihembus angin.
Abdullah tidak ingin mendengar. Kakinya terus ia seret.
''Pulanglah, Abdullah. Maka kau akan menemukannya,'' suara
ibunya memanggil lagi. Langkahnya makin melata. Seluruh
sendi-sendi kakinya bergetar, merambat ke engsel tubuhnya.
Tapi Abdullah tak mau mengalah pada keadaan tubuhnya. Ia
seret kakinya dengan sisa tenaga. Jalan ibarat pasir yang
menusuk luka di tubuhnya. Serakan mayat itu masih
bergelimpangan di kanan-kiri. Halangi langkah tubuhnya yang
makin ringkih. Mata-mata mereka membuka. Seperti hendak
menyampaikan pesan pada Abdullah.
''Sudahlah, Abdullah. Pulanglah ke rumah.''
Abdullah singkirkan suara-suara itu dari udara. Langit
menjadi-jadi bekunya. Hanya ada suaranya yang mengapai-
gapai udara. Ia hampir kehilangan keseimbangan ketika kaki
kanannya menabrak tubuh yang membujur. Tubuhnya
mencoba menahan lengkung badannya yang hampir jatuh ke
tanah. Tapi bumi seperti ingin memeluknya dan
merengkuhnya. Berat badannya condong ke tanah.
Bunyi berdebam memecah sunyi ketika tubuhnya yang labil
menimpa mayat itu. Mata yang putih. Seperti daun jendela
yang membuka lebar. Menyeret Abdullah masuk dan terhisap
ke dalamnya. Mata yang berkata. Mengapa kau tak yakin ini
semua, Abdullah. Kemana kau campakkan imanmu itu.
Pulanglah. Kembalilah ke rumahmu.
Abdullah menggeram.
Diamlah. Semuanya sudah kosong. Hambur oleh angin yang
membawa pergi. Hanya satu yang masih tersisa. Aku sedang
mencarinya dan ingin membuktikan keberadaan-Nya. Jadi
singkirkan kakimu, hai mayat yang tak punya rasa. Tak ada
yang dapat menghalangi langkahku.
Dengan menahan sakit pada tangan kirinya yang menimpa
aspal kasar, tangan Abdullah menjangkau tongkat kayu
dengan tangan kanannya. Ketika tumpuannya telah kukuh,
Abdullah menaikkan tubuhnya ke atas. Begitu susah payah ia
menegakkan tubuh. Tapi siapakah yang bisa mengalahkan
kekerasan hatinya?
Setelah tubuhnya tegak seimbang, Abdullah menendang mayat
itu. Ia injak dengan kaki kanannya yang masih menyimpan
tenaga. Lalu mendengus.
Jalan yang ditempuh Abdullah makin menyempit dalam
pandangan matanya yang kelabu. Tapi ia terus berjalan.
Beberapa depa di depannya, Abdullah tersentak. Masjid
Baiturrahman masih berdiri tegak. Seperti mercusuar tinggi di
tengah lautan puing-puing yang menyerak. Warnanya yang
putih pantulkan kilau matahari ke seluruh padang yang luas.
Padang mahsyar.
Abdullah semakin kebut langkahnya. Seperti roda, kakinya
yang pincang bergerak cepat. Ia berlari. Seperti kuda sembrani
yang melintas di permukaan laut yang tenang.
''Mau kemana engkau, Abdullah?''
Abdullah tak menjawab. Ia terus seret langkahnya. Menekan
gemuruh yang berputar dahsyat di kepalanya. Adakah Engkau
di sana? Dadanya bergetar hebat. Sudah habis air matanya
sejak berhari-hari lalu. Tapi apa yang ada di dadanya ini?
Begitu hebat guncangannya, begitu keras gemuruhnya. Ketika
tak ada lagi yang bisa menahannya, Abdullah meraung hebat.
Seluruh persendiannya patah dan lunglai. Ia terjerambab
dengan tubuh kehilangan daya. Dan terduduk di teras masjid
dengan mata yang buta. Dengan tubuh yang tergugu. Adakah
badai yang lebih besar dari ini, Ya Allah? Abdullah menangis.
Hatinya basah.
''Apakah engkau menemukannya, Abdullah?'' Suara yang jauh
meruapi telinganya.
Dagu Abdullah mengangguk makin hebat. Air mata
menggenang di wajahnya. Membasah di janggutnya yang
tipis. Seperti kilau minyak zaitun. Tak sanggup gelombang
suara keluar dari kerongkongannya yang tercekat. Hanya lirih
yang mengisi udara.
''Bagaimana mungkin, bukankah matamu telah buta,
Abdullah?'' Suara yang lembut menghunjam dadanya.
Air mata Abdullah makin menderas. Tubuhnya lumpuh. Tak
kuat menahan guncangan yang kuat dalam dadanya. Matanya
memang telah buta. Sejak gelombang pasang itu meraup
seluruh hidupnya. Ia tak melihat apa-apa lagi. Tapi air mata
yang membasuh hatinya membukakan semua pintu yang
terkatup.
Ia seakan melihat istrinya, ibunya, bapaknya, dan Ibrahim
anaknya melambaikan tangan ke arahnya. Lalu di sebelah-
sebelahnya, tetangga rumah, teman sesama nelayan. Senyum
mereka merekah. Ikhlas. Seperti kuntum-kuntum embun yang
membeningkan pagi. Lalu perlahan semuanya mengabur
serupa kabut yang membias di fajar subuh.
Suara adzan menyayat telinganya. Abdullah merasa tubuhnya
melayang dalam udara. Menyatu dalam ruang hampa. Ketika
tersadar, ia melihat tubuhnya bersimpuh di depan mihrab
masjid. Begitu kecil. Dan tanpa daya.***
Minggu, 02 Desember 2012
KATA-KATA CINTA
Artikel: Vj Smart
Karya : Putroe Bendahara
Saat kamu melihat fotonya, ataupun
hanya mendengar suaranya, bahkan
hanya membaca surat cintanya, kamu
merasakan rindu, maka berbahagialah
karena kamu sedang jatuh cinta.
Cinta adalah berbagi, karena walau ada
di dua raga, setiap pasangan hanya
memiliki satu hati.
Aku sadar aku tak sempurna, tetapi kau
menyempurnakanku dengan cintamu.
Saat kamu melihat fotonya, ataupun
hanya mendengar suaranya, bahkan
hanya membaca surat cintanya, kamu
merasakan rindu, maka berbahagialah
karena kamu sedang jatuh cinta.
Jika kamu inginkan sesuatu, posisikan
dirimu tuk menerima hal itu, karena ia tak
akan datang jika kamu sendiri tak siap
menerimanya.
Cinta mengajarkan kita menerima
kekurangan seseorang bukan
kelebihannya.
Terkadang Tuhan tak memberikan apa
yang kamu inginkan, hanya karena Tuhan
tahu apa yang kamu inginkan, bukan
yang kamu butuhkan.
Jangan bermain-main dengan seseorang
yg sedang menunjukan arti cinta, karena
kamu akan menyesal ketika ia pergi
meninggalkanmu.
Jangan biarkan orang yang membencimu
menyakitimu, biarkan orang yang
mencintaimu memulihkanmu.
Aku tak pernah memintamu sesuatu agar
kamu mencintaimu dan menuntut suatu
hal untuk sebuah keharusan, tapi aku
hanya mengharapkanmu agar selalu
mencintaiku.
Cinta sejati hanya ada pada Allah SWT
semata.
Jika mencintaimu dimulai dengan
senyuman, tumbuh dengan dekapan dan
akan kuakhiri dengan sebuah pelaminan.
Mencintaimu adalah keinginanku,
memilikimu adalah dambaanku, meski
jarak jadi pemisah, hati tak akan bisa
terpisah.
Memilikimu adalah hal yang terindah
dalam hidupku.
Tidak ada yang mampu membuat hati ini
tersentuh, kecuali dirimu sayang, karena
kamulah bidadari terindah dalam hidupku.
Sesakit apapun kau menyakitiku, aku
masih mencintaimu dan masih setia
menunggumu disini.
Cinta adalah misteri dalam hidupku yang
tak pernah ku tahu akhirnya.
Selama nafas ini masih ada, selama
jantung ini masih berdenyut, aku akan
mencintaimu dan membahagiakanmu.
Cinta sejati bukan cinta yang
mengutamakan pelukan, ciuman dan
pertemuan. Tapi cinta sejati lebih
mengutamakan pengabdian, kasih
sayang dan perhatian.
Cinta itu aneh, semakin kamu berusaha
menghapus dia dari hatimu, semakin
sering dia muncul di pikiranmu.
Cinta tidak pernah meminta, ia senantiasa
memberi, cinta membawa penderitaan,
tetapi tidak pernah berdendam, tak
pernah membalas dendam. Dimana ada
cinta disitu ada kehidupan manakala
kebencian membawa kepada kemusnahan.
Tak perlu menunggu ucapan cinta
darimu, perhatianmu dan senyummu
sudah cukup membuatku tahu, kau
mencintaiku.
Dalam cinta, kamu tahu dia bukan orang
yang tepat tuk hidupmu, ketika kamu
merasa lebih sepi daripada ketika kamu
masih sendiri.
Sebenarnya aku tidak pernah memilihmu,
tapi cintalah yang memilihmu menjadi
kekasihku.
Apapun yang kulakukan tidak membuatku
bahagia, kecuali jika aku melakukan
sesuatu hal untukmu.
Tiada apapun yang aku punya, tiada cinta
yang kurasakan, saat kamua datang aku
pun terasa kamu beda. Kamu memang
beda, kini kau telah mengisi hati ini, kini
kau memberi warna yang sangat indah
dalam hidupku.
Waktu yang mempertemukan kita, waktu
yang membuktikan besarnya cinta kita
untuk bersama.
Ketika kau mencintainya dan kau hanya
mendapat hujan, cintailah aku sebagai
pelangimu.
Dalam cinta, jangan mengharapkan
seseorang tuk tetap bersamamu, jika
yang kamu beri padanya hanya alasan
tuk meninggalkanmu.
Ketika kesedihan menyapa, cobalah untuk
tetap tersenyum. Kamu tidak pantas untuk
bersedih.
Wajahmu tidak membuatku takluk,
senyummu juga tidak bisa membuatku
tersipuh, kecuali ketulusanmu
mencintaiku yang membuat hatiku
bertekuk lutut di hatimu.
Cinta dapat membuat kita melayang
tinggi di langit biru yang dipenuhi oleh
awan penyejuk hati, namun terkadang
cinta juga yang membuat kita menjadi
insan yang terbelenggu.
Ketika kamu inginkan sesuatu, kamu tak
seharusnya mencari tahu siapa yang
memperhatikanmu. Karena yang harus
kamu tahu adalah tujuanmu.